PayPal

Sabtu, 10 Mei 2014

Berlibur Ke Bali

Hai sob!!!
Kali ini saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya mengenai liburan saya di Bali bersama ibu saya dan teman semasa SMK saya. Simak ya!!!

Kisah ini berawal saat AirAsia mengadakan promo. Bandung-Bali itu hanya Rp.289.000 (belum termasuk biaya bagasi). Iseng-iseng saya coba ngecek jadwal hari libur saya. Setelah saya nemu jadwal hari libur saya, saya langsung mengecek deh harga tiketnya. Saya sendiri memilih tanggal 8-9 Februari 2014 (2 hari doang). Maklumlah, saya juga harus professional dalam bekerja. Jangan sampai liburan saya juga mengganggu semua pekerjaan saya.

Pas saya cek untuk keberangkatan tanggal 8 Februari 2014, ternyata saya nemu untuk keberangkatan pikul 05.40 WIB dengan rute Bandung-Denpasar. Saya lebih memilih terbang dari Bandung karena jaraknya lebih dekat ke kota Karawang. Udah gitu juga gak terlalu sibuk kayak di Soekarno-Hatta. Setelah saya nemu, langsung deh saya buru-buru nelpon call center AirAsia untuk melakukan pemesanan.

Saya booking tiket untuk 2 orang yaitu dengan ibu saya. Setelah saya membeli tiket berangkatnya, saya langsung mencari tiket untuk pulangnya. Tadinya saya mau pilih rute Denpasar-Jakarta, akan tetapi harganya udah mahal. Akhirnya, saya putuskan untuk mengambil rute Denpasar-Bandung saja. Pas searching, saya nemu tiket Lion Air. Harganya sekitar Rp.531.000. Langsung deh saya nelpon call center dan pesen tiketnya.

Setelah saya membeli tiketnya, saya langsung mencari jasa penyewaan mobil di Bali. Pas coba browsing di mbah Google, saya ngeliat postingan di Kaskus jasa sewa mobil Bli Komang. Tanda jadinya cuma Rp.100.000. Sisanya dibayar setelah tur selesai. Awalnya saya juga ragu, tapi banyak banget yang udah kasih testi bagus ke dia. Akhirnya, saya putuskan untuk memesan jasa bli Komang. Kalaupun ketipu, toh cuma Rp. 100.000 doank.

Setelah memesan mobil, tinggal saya memesan hotel untuk menginap di Bali. Kebetulan, saya dapat voucher potongan harga Rp. 200.000 untuk pemesanan hotel di http//:www.tiket.com sebagai hadiah spesial atas pembelian tiket Mandala Airlines yang kebetulan kena cancel flight. Namun, untuk menghemat pengeluaran selama di Bali, saya mengajak temen saya untuk ikut. Akhirnya, temen saya yang namanya Rendi untuk ikut. Dia pun setuju.

Setelah itu, saya lagsung booking tiket pesawatnya lagi buat dia. Setelah booking tiket pesawat, akhirnya saya browsing mengenai hotel yang nantinya akan saya tempati selama di Bali. Kemudian, saya pilih hotelnya yang dekat dengan pura luhur Tanah Lot. Hotelnya sendiri bernama Hotel Coco. Jaraknya pun tidak terlalu jauh dengan Pura Tanah Lot dan Pura Batu Bolong. Ya, jalan kaki juga bisa!!!

07 Februari 2014

Sepulang kerja, saya langsung berkemas dan menyiapkan itinerary. Semuanya langsung saya masukkan ke dalam koper yang saya pinjam dari kakak saya. Setelah selesai berkemas, saya istirahat sejenak (bukan tidur) sambil menunggu teman saya Rendi yang katanya akan datang ke rumah saya sekitar pukul 00.30 WIB. Dia sebenarnya shift malam, tapi dia minta izin pulang cepet.

08 Februari 2014

Lewat tegah malam, temen saya akhirnya datang juga. Setelah semuanya siap, akhirnya kami pun bergegas pergi. Kami di antar ke bandara oleh kakak ipar saya yang dari Tasikmalaya dengan menggunakan mobil milik kakak ke-2 saya. Kami berangkat sekitar pukul 01.30 malam. Maklum lah, gak ada transportasi ke Bandung pada jam segini. Di perjalanan, saya sempat tertidur untuk beberapa saat karena mata saya belum terpejam karena harus mempersiapkan itinerary.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama satu setengah jam, tibalah kami di bandara Husein Sastranegara, Bandung. Bandaranya juga terlihat masih sepi. Maklum lah, penerbangan pertama aja mulainya sekitar jam 5 pagi. Setibanya di sana, kami langsung menuju ke ruang tunggu bagian luar. Saya pun pergi ke toilet untuk buang air kecil.

Karena bandara belum dibuka, saya menggunakan toilet di bagian luar bandara Husein Sastranegara (dekat teminal kedatangan). Kesan pertama saya menggunakan toilet tersebut benar-benar kurang nyaman. Gak ada tempat menyimpan tas ataupun gantungan di dalamnya. Bahkan, salah satu pintunya pun ada yang gak bisa dikunci. OMG!!! I really hate its toilet.

Tak lama berselang, bandara pun mulai dibuka. Satu per satu penumpang pun mulai masuk ke area check-in counter. Akhirnya, kami berpisah dengan kakak ipar saya di depan pintu masuk. Setelah melakukan proses check-in, kami pun langsung duduk di ruang tunggu. Iseng-iseng saya pengen tahu toilet di bagian dalam bandara. Emhhh!!!! Yang ini agak lebih baik. Hanya saja, tissuenya yang gak ada.

Setelah itu, kami pun langsung diperintahkan ke gerbang keberangkatan di lantai 2. Sambil menunggu boarding, saya sempatkan dulu melaksanakan ibadah sholat di lantai 2. Mushola-nya pun sangat kecil dan hanya bisa menampung beberapa orang saja. Kayaknya ni bandara perlu pembenahan deh!!! Tapi, uniknya jendela mushola tersebut menghadap langsung ke landasan (khusus mushola pria).

Pesawat yang kami naiki adalah pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan QZ-7912 . Waktu keberangkatannya adalah pukul 05.40 dan tiba di Denpasar sekitar pukul 08.20 WIB. Namun, kami dijadwalkan tiba 10 menit lebih awal sesuai dengan yang tertera di itinerary terbaru yang dikirimkan beberapa hari yang lalu.

Tak lama kemudian, kami pun langsung naik ke dalam pesawat. Pagi itu hujan rintik-rintik. Para penumpang pun bergantian menggunakan payung yang tersedia di bandara. Saya sendiri berjalan ke pesawat tanpa menggunakan payung karena saya harus menunggu giliran. Lagi pula cuma hujan rintik-rintik kok. Di sini juga gak ada aviobridge-nya.
Onboard selfie

Setelah masuk, kami pun langsung mencari tempat duduk kami. Kami duduk di barisan 15ABC. Saya memesan kursi tersebut saat pembelian tiketnya. Harganya sekitar Rp.20.000/seat. Ada pula tempat duduk hot seat yang harganya antara Rp. 95.000-Rp. 120.000 dengan seat pitch yang lebih luas. Bahkan, penumpang hot seat dan hi-flyer adalah penumpang yang mendapat prioritas terlebih dahulu saat naik ke pesawat.
Sesaat setelah take-off

Tak lama kemudian, pesawat pun berangkat. Sesaat setelah take-off, saya melihat pemandangan yang begitu indah. Di kota Bandung itu banyak sekali perbukitan yang menjulang tinggi. Pokoknya indah banget deh!!! Karena waktu itu masih pagi dan cuaca agak sedikit mendung, pemandangannya jadi kurang begitu jelas.

Setelah beberapa menit terbang, pramugari pun mulai membagikan makanan kepada para penumpang. Saya melakukan pre-book (pemesanan di awal) supaya dapat menu yang saya inginkan dan juga lebih hemat 20% dibandingkan dengan membeli langsung di pesawat. Saya sendiri memesan nasi minyak Palembang ala Chef Farah Quinn, sementara ibu dan teman saya memesan nasi kuning Manado.

Nasi Minyak Palembang ala Chef Farah Quinn
Setelah makan, saya pergi ke toilet untuk buang air kecil. Pas keluar dari toilet, banyak orang yang berfoto sama pramugari. Aku juga malah ikut-ikutan foto bareng sama pramugarinya. Hehe... Pramugarinya juga ramah banget.
Foto bareng pramugari


Setelah terbang kurang lebih sekitar 1jam 30 menit (tiba 10 menit lebih awal), tibalah kami di bandar udara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Terdapat perbedaan waktu kurang lebih 1 jam antara Bandung dan Bali. Cuacanya agak sedikit mendung dan baru saja diguyur hujan. Setelah turun, kami sempat berfoto terlebih dahulu sebelum masuk ke terminal kedatangan. Setelah selesai berfoto, kami pun langsung masuk ke gedung terminal kedatangan dan menunggu bagasi kami di conveyor.


Tak lama, sopir yang menjemput kami pun mengirimkan pesan SMS (maklum, HP-nya harus dimatikan kalo naik pesawat). Setelah kami mengambil bagasi kami, akhirnya kami pun melangkah keluar. Di sana, driver kami sudah menunggu untuk menjemput kami. Oh iya, nama drivernya adalah Bli Putu. Usianya sekitar 22 tahun. Kami dijemput dengan menggunakan mobil Toyota Vios.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Pura Taman Ayun. Biaya masuknya adalah Rp. 10.000/ wisatawan. Pura ini dibangun sekitar abad ke-17 oleh raja Mengwi. Di bagian sisinya terdapat kolam dengan bunga teratai yang mengapung di atasnya. Bukan cuma itu, di sebelah kanan pintu masuk juga terdapat replika orang yang sedang melakukan sabung ayam. Hal tersebut juga merupakan salah satu kebudayaan di Bali. Satu hal lagi, pura ini juga masuk dalam warisan sejarah dunia yang dilindungi oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization).
Me & Mom at Taman Ayun Temple

Setelah mengunjungi Pura Taman Ayun, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Danau Beratan yang terletak di kawasan Bedugul. Ada hal yang unik dari nama Bedugul sendiri. Nama Bedugul diambil dari kata "bedug" dan "kul". Bedug adalah alat yang biasa digunakan untuk menandakan waktu sholat, sedangkan kul adalah alat kentongan yang terbuat dari kayu yang sering kita lihat di pos ronda. Versi yang lainnya adalah ketika ada seorang raja yang mandi di danau Beratan dan maaf "anunya kelihatan", maka jadilah nama Bedugul.
Sepanjang Perjalanan Menuju Bedugul

Sepanjang perjalanan menuju ke Bedugul, kami disuguhi dengan pemandangan perbukitan yang sangat indah. Bahkan sebagian terlihat masih asri. Di kawasan ini juga banyak sekali warga yang beragama muslim. Bahkan, ada banyak restaurant halal yang tersedia di kawasan ini. Mata pencaharian utama di kawasan ini adalah bertani buah strawberry karena letak geografisnya yang berada di atas ketinggian.
Warga Bali Bersiap Untuk Sembahyang

Setelah tiba di danau Beratan, kami pun langsung berjalan-jalan di sekitar danau Beratan. Biaya tiket masuk ke tempat wisata Danau Beratan adalah Rp. 10.000/ wisatawan domestik, dan Rp. 30.000/ wisatawan asing. Ada hal yang unik dari Danau Beratan ini, Pura Ulundanu yang dibangun di sisi danau Beratan dibangun seolah-olah mengambang di atas air. Bahkan, pura ini juga dicetak di lembaran uang kertas Rp. 50.000 warna biru. Anda juga bisa berkeliling danau dengan menggunakan perahu yang tersedia dengan tambahan biaya.
Pura Ulundanu

Setelah selesai mengunjungi danau Beratan, kami langsung melanjutkan perjalanan kami kembali. Karena waktu dzuhur sudah tiba, saya dan ibu saya melaksanakan sholat dzuhur di masjid yang berada persis di seberang danau Beratan. Untuk mencapai ke masjid ini, kami harus meniti puluhan anak tangga karena letaknya yang berada di pinggir tebing. Dari masjid ini juga terlihat hamparan danau Beratan. Begitu pula sebaliknya, dari danau Beratan juga kita bisa melihat masjid ini.

Setelah melaksanakan sholat dzuhur, kami melanjutkan perjalanan kami menuju ke Alas Kedaton. Sebelum itu, kami sempat mampir dulu di restaurant Saras. Karena sedang di Bali, saya tidak mau ketinggalan untuk mencicipi makanan khas Bali. Saya memesan bebek betutu (khas Bali), sup asparagus, dan ayam bakar lengkap dengan sambal matah. Minumannya juga saya memesan jus strawberry yang memang banyak tersedia di Bedugul. Setelah makan siang di restaurant Saras, kami langsung melanjutkan perjalanan kami menuju ke Alas Kedaton.
Alas Kedaton

Sesampainya di Alas Kedaton, kami langsung disambut oleh guide khusus untuk wisata di area Alas Kedaton. Biaya tiket masuknya adalah Rp. 10.000. Alas Kedaton merupakan tempat hunian ribuan kera. Di Alas Kedaton sendiri ada salah satu pura yang hanya dibuka pada waktu tertentu saja. Uniknya lagi, guidenya itu adalah pemilik toko yang berjejer di area Alas Kedaton. Setiap pemilik toko, mempunyai antrian masing-masing untuk memandu wisatawan.

Dengan berbekal tongkat kayu kecil, guidenya membimbing kami untuk berkeliling. Guidenya merupakan guide yang sudah cukup terlatih, mereka juga sudah mengenal karakter kera-kera yang ada di area Alas Kedaton. Sebelum kami masuk ke bagian dalamnya, guide kami menawarkan untuk membeli kacang tanah untuk diberikan kepada para kera supaya mereka mau mendekat.

Pas kami masuk, para kera sudah menyambut kami. Bahkan beberapa dari mereka memegangi tangan kami untuk meminta kacang. Gelinya lagi, ada pula yang sampai naik ke atas pundak. Pokoknya seru deh! Awalnya sih agak takut, tapi akhirnya terbiasa juga. Guide kami bilang biarkan mereka yang menyentuh kita, asalkan kitanya jangan nyentuh mereka karena mereka bisa merasa terancam dan marah.

Di samping kiri dan kanan juga terdapat hutan yang lebat yang memang menjadi tempat hunian para kera. Di sini juga kita bisa berfoto dengan kelelawar. Bahkan tersedia juga aksesoris mahkota pilihan sesuai dengan yang kita inginkan. Biaya fotonya sekitar Rp. 20.000. Tenang, kelelawarnya udah jinak kok! Tapi, kalo mau foto pake kamera sendiri juga bisa kok!
Alas Kedaton

Setelah berkeliling, guide kami memandu kami ke tokonya dan menawarkan souvenir khas Bali. Selama menemani berkeliling, guide kami harus menutup tokonya supaya tidak diobrak-abrik oleh para kera. Tokonya hanya dibuka ketika dia menunggu antrian untuk menjadi guide para pengunjung. Setelah berbelanja souvenir, kami langsung melanjutkan perjalanan kami ke Tanah Lot.

Sesampainya di Tanah Lot, kami langsung menuju ke hotel Coco untuk check-in. Hotel Coco sendiri berada di dalam kawasan tempat wisata Tanah Lot. Saya lupa berapa harga tiket masuk ke area Tanah Lot. Setelah check-in, saya langsung berkeliling area Tanah Lot. Sementara itu, supir kami langsung pulang dan akan menjemput kami keesokan harinya. Kali ini saya hanya berkeliling berdua dengan teman saya karena ibu saya kelelahan setelah seharian berkeliling.
Coco Hotel Swimming Pool

Tempatnya ramai banget karena berbarengan dengan acara melihat sunset. Selain itu, kita juga bisa melihat ular suci yang berada di gua di bibir tebing dekat pantai. Sayangnya, kalau ingin ke Pura Luhur Tanah Lot kita harus menyebrangi pantai yang terendam air. Bukan cuma itu, yang boleh ke Pura Luhur hanya orang yang memakai pakaian adat dan yang ingin sembahyang saja.
Sunset View at Tanah Lot

Setelah selesai melihat Pura Luhur Tanah Lot, kami menuju ke Pura Batu Bolong yang letaknya masih di kawasan Tanah Lot. Ngeri juga sih tempatnya. Soalnya gak ada pagar pengamannya. Pokoknya harus hati-hati kalo datang ke sini. Apalagi kalau bawa anak kecil. Walaupun begitu, tempat ini wajib dikunjungi.

Setelah selesai ke Pura Batu Bolong, saya dan teman saya pergi untuk menonton tari Kecak (masih di kawasan Tanah Lot). Biaya untuk menonton pertunjukan tari Kecak adalah Rp. 50.000. Pertunjukan tari Kecak dimulai menjelang sunset hingga selesai. Tempat duduk para penonton juga dibuat melingkar. Lighting-nya juga dirancang sedemikian rupa.

Setelah selesai menonton tari Kecak, kami berdua langsung kembali ke hotel. Malamnya, kami makan malam di hotel Coco. Saya dan teman saya makan di lounge, sementara ibu saya memilih makan di kamar. Setelah selesai makan malam, kami diminta untuk memilih menu sarapan untuk besok (sudah termasuk dalam biaya kamar). Oh iya, hotel ini hanya menyediakan continental breakfast.

Kamarnya sendiri cukup luas. Kami bertiga tidur dalam 1 kamar dengan extra bed (extra charge) karena teman saya gak mau tidur sendiri. Saya tidur bersama ibu saya, sedangkan teman saya menggunakan extra bed. Kamarnya juga dilengkapi dengan WiFi dan safe deposit box. Selain itu, kamar mandinya juga dilengkapi dengan bathtub dan shower.

09 Februari 2014

Keesokan harinya, saya langsung kembali mengeksplorasi kawasan Pura Tanah Lot. Kali ini tempatnya masih sepi. Maklumlah, saya dan teman saya jalan sekitar pukul 06.00 WITA. Di sinilah letak kenikmatannya. Kita bisa mendengarkan deburan ombak tanpa harus terganggu oleh suara orang yang berlalu-lalang. Bahkan, kita bisa berfoto tanpa harus malu bergaya dan terganggu dengan orang lain.
Pura Luhur Tanah Lot

Setelah selesai, kami pun langsung kembali ke hotel untuk persiapan check-out. Drivernya saya minta untuk menjemput sekitar pukul 10.00 WITA. Setelah supir kami tiba, kami langsung bergegas dan melakukan proses check-out. Sebelum meninggalkan hotel, saya sempat mengisi kertas komentar yang diberikan oleh resepsionis. Kali ini saya dijemput dengan mobil Toyota Avanza karena mobil Toyota Vios sebelumnya adalah milik bosnya yang terpaksa harus dipakai karena banyak yang order sewa mobil.
Hotel Coco

Tujuan kami hari ini adalah ke Tanjung Benoa. Sebelum ke Tanjung Benoa, kami mampir dulu ke pusat oleh-oleh khas Bali. Sesuai dengan rekomendasi driver kami, kami mengunjungi Krisna. Toko ini cukup terkenal di Bali. Bahkan toko ini mengadakan undian juga yang hadiah utamanya mobil. setiap pembelanjaan Rp.100.000 akan mendapatkan 1 kupon undian (berlaku kelipatan).
Pelayannya Saya Foto

Di Krisna, saya membeli cemilan khas Bali dan souvenir yang bertuliskan Bali juga. Tenang saja!!! Meskipun tokoknya besar dan lebih mirip kayak supermarket, harganya tetep miring kok! Di sini tersedia berbagai macam souvenir mulai dari kaos, gantungan kunci, hingga perhiasan yang terbuat dari perak. Bukan cuma itu saja, di sini juga kita bisa meminta jasa packing (dengan biaya tambahan) supaya memudahkan kita untuk membawa barangnya. Bahkan, ada stiker name tag-nya juga lho!!!

Setelah selesai shopping, kami langsung mampir ke restaurant 168 Japanese Restaurant untuk makan siang. Maklum, beberapa hari yang lalu saya beli voucher makan online (diskon) untuk makan di restaurant ini. Agak aneh juga sih makan di restaurant ini, soalnya rata-rata pengunjungnya adalah orang Jepang dan Korea. cuma pelayannya aja yang orang Indonesia. Haha... Mungkin cuma kebetulan aja gak ada orang Indonesia-nya.
168 Japanese Restaurant

Konsep restauran ini adalah "All You Can Eat" alias buffet. Bahkan soft drink-nya pun diberikan secara cuma-cuma. Hanya minuman beralkohol saja yang dikenakan biaya tambahan. Meja makannya pun hampir sama kayak di Jepang. Kita masak sendiri dengan menggunakan tungku yang terdapat di masing-masing meja. Tapi, anda juga tak perlu khawatir!! Kita juga bisa kok memilih makanan yang sudah matang tanpa harus repot memasaknya.

setelah selesai makan siang, kami langsung meluncur ke Tanjung Benoa. Rute yang kami lalui adalah dengan melewati tol Mandara yang dibangun di atas laut. Pokoknya, tolnya keren abis deh!!! Oh iya, designer-nya juga orang Bali asli lho!!!! Berbeda dengan tol pada umumnya, tol ini langsung menerapkan bayar tol ketika kita masuk gerbang tol. Jadi gak ada sistem ambil tiket, kemudian bayar di pintu keluar. Tarif tolnya sekitar Rp. 10.000.
Tol Mandara

Tak lama kemudian, tibalah kami di Tanjung Benoa. Di sana, saya dan teman saya langsung bermain watersport. Sedikit tips dari saya, pesanlah dimuka untuk mendapatkan harga yang lebih murah. Tadinya, kami memesan untuk parasailing dan diving. Namun, parasailing tidak bisa dilakukan karena anginnya kurang bagus. Akhirnya, kami memutuskan untuk menggantinya dengan Flying Fish. Oh iya, di sini juga sedang diadakan prosesi penaburan abu orang yang sudah meninggal ke ke laut. Jadi, kami harus tetap tenang dan gak boleh terlalu berisik.

Aktifitas pertama yang kami lakuakan adalah flying fish. Kegiatan ini diawali dengan naik ke atas boat dengan posisi badan dalam keadaan berbaring. Setelah itu, akan ditarik soleh speed boat sampai melayang di udra layaknya seperti sedang menerbangkan layangan. Pokoknya keren abis deh!!! Kami pun melakukannya hingga 2 kali.

Setelah selesai bermain flying fish, dilanjutkan dengan aktifitas diving. Ini adalah pertama kalinya saya diving. Sedikit takut sich, tapi mereka berusaha membuat saya tetap tenang. Kami pun harus berganti pakaian kami dengan pakaian khusus diving. Pakaiannya agak sedikit ketat. Selain itu, mereka memberikan plastik berisi roti tawar untuk menarik minat ikan supaya datang mendekat.

Aktifitas diving-nya sendiri dilakukan di tengah laut dengan kedalaman sekitar 7 meter di bawah permukaan laut. Sebelum menyelam, kami juga diajarkan terlebih dahulu beberapa teknik menyelam dan sandi-sandi ketika menyelam nanti. Setelah briefing selesai, aktifitas pun dimulai. Jangan khawatir, meskipun anda tidak bisa menyelam, pemandunya akan selalu menemani dan menuntun ke tempat mana saja yang harus dituju.
Persiapan Diving

Setelah sampai di tempat di mana di situ sudah dirancang untuk pegangannya, kami pun langsung memulai memberi makan ikan dengan roti tawar yang kami bawa tadi. Oh iya, jangan lupa ya untuk selalu berpeganyan. Karena di dalam laut juga ada arus airnya yang bisa menghempaskan kita. Di dalam air, kami juga sempat mengabadikan momen penyelaman kami.
Diving

Setelah selesai menyelam, kami pun langsung kembali ke pantai. Di perjalanan menuju pantai, saya merasa agak mual. Mungkin, mabuk perjalanan kali! Pas sesampainya di pantai dan berganti pakaian, akhirnya saya muntah. Mungkin karena saya terlalu banyak makan ditambah dengan tekanan di bawah laut. Petugasnya pun mencoba untuk membantu saya. Bukan cuma itu, dia juga ngasih kantong plastik karena khawatir bakalan muntah lagi di jalan.

Setelah selesai watersport activity, akhirnya kami berangkat menuju ke bandara. Temen-temen saya yang gak ikut minta oleh-oleh Joger, tapi waktunya gak memungkinkan. Bahkan, saya pun gak sempet singgah di pantai Kuta. Kami menuju ke bandara dengan melewati tol Mandara (tol yang sama ketika menuju ke Tanjung Benoa). Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam (macet), akhirnya kami tiba di bandara I Gusti Ngurah Rai. Dan akhirnya, kami pun berpisah dengan driver yang menemani kami selama 2 hari di Bali.
Tiba di Terminal Kedatangan

Setibanya di bandara, kami langsung menuju ke counter check-in. Gila, antriannya banyak banget. Maklum lah, banyak para penumpang yang pulang di sore hari. Di bandara, kami juga sempat berjumpa dengan wisatawan dari Teluk Jambe, Karawang. Haha, akhirnya ketemu juga dengan warga 1 kota. Bukan cuma itu, di bandara juga terdapat replika barong yang biasa dijadikan objek foto. Setelah proses check-in selesai, kami pun langsung menuju ke ruang tunggu.
Check-In

Di bandara I Gusti Ngurah Rai tidak ada lounge yang memberikan fasilitas layanan check-in. Karena, lounge-nya hanya ada di bagian ruang tunggu yang berderet dengan restaurant dan toko souvenir. untuk menuju ke ruang tunggu, kita harus melakukan check-in terlebih dahulu. Tapi, ada 1 lounge yang terdapat di bagian luar yaitu lounge milik maskapai Garuda Indonesia. Lounge ini diperuntukan khusus penumpang Garuda Indonesia. Bahkan ada fasilitas layanan check-in juga (tanpa harus ngantri di counter check-in).

Kali ini, kami menggunakan pesawat Lion Air menuju ke Bandung dengan nomor penerbangan JT-903 dengan waktu keberangkatan pukul 19.40 WITA. Gerbang keberangkatan pesawat kami berada di gerbang nomor 18. Sambil menunggu boarding call, saya memilih untuk menggunakan fasilitas ruang tunggu eksekutif yang ada di sini. Biayanya sekitar Rp. 75.000/ orang. Namun temen saya Rendi mendapatkan layanan gratis karena punya kartu kredit.

Lounge-nya tempatnya terlalu kecil dan bahkan saya harus menunggu giliran tempat duduk. Hhhmmmm.....!!! BT juga sih!!! Tapi, dinikmatin aja lah!!! Tidak banyak pilihan makanan di sini. Pantas saja harganya juga murah! Namun begitu, saya gak mau nyebutin nama lounge-nya. Tak lama kemudian panggilan boarding pesawat kami pun terdengar. Langsung deh kami bergegas menuju ke gerbang nomor 18.

Perlu diingat!!! Rata-rata penerbangan domestik di sini itu menggunakan shuttle bus menuju ke pintu pesawat. Karena aviobridge diprioritaskan untuk penerbangan Internasional. Ingat lho!!! Jangan sampai anda terlambat menuju ke pintu keberangkatan anda. Bisa jadi, anda akan ketinggalan pesawat anda. Bahkan, ketika saya tiba di gerbangnya, waktu itu sudah menggunakan bus ke-2.

Eh, di bis saya ketemu lagi sama orang bule. Lalu, saya minta difoto bareng dia. You know what? Dia adalah mahasiswa yang ikut program exchange di ITB (Institut Teknologi Bandung) selama 1 bulan. kocaknya lagi waktu dia coba ngomong bahasa Indonesia ke saya. Bahasa Indonesianya agak terbata-bata dan bikin saya gak ngerti dengan bahasa negara saya sendiri. Overall, saya salut sama dia yang mencoba belajar bahasa Indonesia.
Foto Bareng Bule

Beberapa menit kemudian, bisnya pun mulai bergerak menuju ke depan pintu pesawat kami. Setelah itu, kami pun langsung masuk ke dalam pesawat. Namun, saya kayaknya salah pilih kursi selaku web check-in. Pesawat yang saya naiki ini berjenis BOEING 737-800 ER. Saya duduk di kursi yang hampir tidak ada kacanya. Maklum lah, ini pertama kalinya saya naik pesawat BOEING. Mau gak mau saya harus duduk di tempat itu. Tak lama kemudian, pesawat kami pun terbang.

Pemandangan malam hari memang sangat indah. Kita bisa melihat cahaya lampu dari bangunan-bangunan dan kendaraan-kendaraan di bawah. Setelah beberapa menit mengudara, saya iseng pergi ke toilet. Di sana saya cuma survey toilet-nya aja. Hehe. Yang saya bingung waktu nyari tombol untuk wastafle-nya. Saya malah salah pencet hingga menyalakan panggilan pramugari *norak*. Akhirnya pramugarinya datang sambil membukakan pintu dari luar (yang saya kunci dari dalam). Untung saya berpakain lengkap. Kalau saya lagi buang air, pasti malunya minta ampun.

Setelah itu, saya minta maaf ke pramugarinya karena salah pencet,. Akhirnya saya kembali ke tempat duduk saya. Setelah kembali ke tempat duduk, saya akhirnya tertidur hingga lampu tanda sabuk pengaman dinyalakan dan pengumuman pendaratan terdengar. Sebelum mendarat, saya melihat pemandangan perbukitan khas Bandung terlihat remang, tapi tol Cipularang terlihat jelas dari atas. Pokoknya indah banget deh! Tak lama kemudian pesawat kami pun mendarat.

Setelah mendarat, kami langsung menuju ke terminal kedatangan dan menunggu bagasi kami di sana. Gila, sumpek banget tempatnya karena sempit. Apalagi conveyor-nya hanya beberapa meter saja. Itu pun tidak dibuat melingkar. Akhirnya, banyak tas yang menumpuk di ujung conveyor. Sampai-sampai, kami kebingungan mencari box oleh-oleh teman saya (dari Krisna) karena banyak box yang sama (banyak yang belanja di Krisna), hanya saja nama di labelnya berbeda.

Setelah mengambil barang-barang kami, akhirnya kami menuju ke pintu keluar dan menunggu kakak ipar saya menjemput. Sambil menunggu, saya pergi ke restaurant cepat saji yang lokasinya di seberang terminal kedatangan untuk membeli minum. Tak lama, kakak ipar saya pun tiba. Akhirnya berangkatlah kami pulang menuju ke kota Karawang. Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari kota Bandung, akhirnya tibalah kami di kota Karawang. Sesampainya di rumah, saya langsung tidur karena merasa lelah dan ngantuk.

Selesai.

Mungkin itu saja sob yang bisa saya ceritakan. Semoga cerita saya ini bisa bermanfaat bagi kalian semua.
Terima Kasih.

Jumat, 18 April 2014

Satu Hari di Jogjakarta

Hai sobat semua,

Kali ini saya akan menceritakan pengalaman saya berlibur selama satu hari di Yogyakarta. Ceritanya dimulai ketika ada program promo Air Asia dengan fare Rp. 170.000-an plus bagasi 15kg Rp. 40.000 (dengan biaya-biaya jadi R. 219.000). Maklumlah, biasa kalo yang reguler di atas Rp. 400.000-an. Karena saya belum pernah naik pesawat, akhirnya saya putuskan untuk membelinya sekaligus ingin tahu bagaimana rasanya naik pesawat.

Karena promo untuk hari minggunya waktu itu sudah habis, akhirnya saya putuskan untuk membeli tiketnya di hari sabtu, tanggal 11 Januari 2014. Tiket yang saya beli adalah tiket untuk pulangnya saja, berangkatnya saya putuskan untuk naik kereta. Karena, kalau berangkatnya naik pesawat yang sabtu pagi, saya harus charter mobil buat ke bandaraya. Maklumlah, gak ada kendaraan dari Karawang ke bandara Soekarno-Hatta yang berangkat tengah malam.

Setelah sayamendapatkan tiket pesawat promonya, giliran saya mencari tiket kereta apinya. Saya memutuskan untuk pergi ke Yogyakarta via Cirebon dengan naik Ciremai Ekspres dan transit di Cirebon. Dari Cirebon, ada 3 pilihan kereta yang bisa saya pilih setelah saya naik Ciremai Ekspres menuju ke Yogyakarta. Argo Lawu (eksekutif), Taksaka Malam (eksekutif), dan Senja Utama Yogya (bisnis).

Saya putuskan untuk menaiki kereta Argo Lawu atau Taksaka karena keretanya adalah kereta kelas eksekutif. Soalnya, saya pernah punya pengalaman buruk pas waktu naik kelas ekonomi. Meskipun Senja Utama Yogya udah kelas bisnis, tapi saya gak mau naik yang itu. Kemudian, saya langsung mengecek ketersediaan tiketnya di website PT. KAI di http://www.kereta-api.co.id.

Tiket yang saya pertama beli adalah tiket Ciremai Ekspres dari Cikampek menuju ke Cirebon. Saya beli tiketnya untuk kelas eksekutif yang harganya Rp. 40.000 dengan pemilihan tempat duduk sendiri. Saya pilih window seat di nomor 6A. Saya beli tiketnya via Call Center biar gampang dan gak harus input data lagi (soalnya data penumpang atas nama saya sudah terdaftar di sana).

Setelah saya membeli tiket Ciremai Ekspres, akhirnya saya putuskan untuk naik Taksaka Malam. Sialnya, saya kehabisan tiket untuk harga terendahnya dengan subclass J yang tempat duduknya di atas boogie. Meskipun kurang begitu nyaman di bagian itu, tapi saya juga berharap bisa dapat tiket dengan harga terendahnya.

Ya udahlah, saya putuskan untuk nunggu promo bulan Januari muncul seraya mengecek website-nya setiap hari. Beberapa hari kemudian, saya kaget ketika melihat kenyataan bahwa harga tiket terendahnya muncul lagi dan tersisa 1. Kalo prediksi saya sih mungkin ada penumpang yang batal berangkat. Saat itu juga langsung saya ambil HP dan telpon ke call center KAI di 121 (kalo pake ponsel jangan lupa pake kode 021).

Dengan nada yang ramah, petugas call center melayani saya. Lalu, saya tanyakan lagi ke petugasnya mengenai ketersediaan kursi untuk yang harganya Rp.255.000  Untungnya, tuh tiket belum ada yang booking dan bahkan tempat duduknya di kursi 3A (window seat). Langsung deh saya minta booking-in ke petugasnya. Setelah selesai melakukan pemesanan, saya langsung pergi ke Alfamart buat bayar tiketnya.

Hari H (10 Januari 2014)

Hari ini saya sebenarnya ada tugas lembur kerja, tapi saya putuskan untuk tidak mengambilnya karena saya harus packing dan menyiapkan itinerary sebelum berangkat ke Yogyakarta. Saya minta izin terlebih dahulu ke atasan saya untuk tidak ikut lembur kerja soalnya saya juga takut ketinggalan kereta. Untungnya, atasan saya pun mengzinkannya.

Pukul 16.30 WIB saya pulang kerja dan langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, saya langsung mandi dan packing seluruh keperluan saya. Setelah selesai packing, saya langsung berpamitan kepada umi saya. Tapi umi saya lebay banget, dia ampe nangis segala. Haha... Itulah naluri seorang ibu yang mengkhawatirkan anaknya. Dan karena ini juga pertama kalinya dan mungkin perjalanan terjauh yang pernah saya lakukan.

Setelah selesai berpamitan, saya langsung diantar menuju ke stasiun Cikampek oleh keponakan saya. Sesampainya di stasiun, saya langsung verifikasi data ke petugasnya dan menunggu kereta Ciremai Ekspres-nya. Di jadwalnya tertera pukul 20.22 WIB. Tak lama kemudian keretanya pun datang. Kaget juga sih pas lihat Ciremai Ekspres udah ada perbaikan. Yang ini lebih bagus dari yang terakhir saya naiki.

Dulu, Ciremai Ekspres itu gerbong kelas eksekutif-nya hanya 2, dan sekarang ditambah jadi 3 gerbong. Dan kelas ekonomi dulu 2 gerbong dan sekarang hanya 1 gerbong. Maklumlah, peminat kelas eksekutif lebih banyak daripada kelas ekonomi. Bahkan menu makanannya sekarang udah high class dengan harga yang sedikit mahal. (maklum, saya selalu makan minimal 1 menu di kereta).

Saya seharusnya duduk di kursi 6A, tetapi penumpang yang duduk di kursi 6B malah duduk di tempat saya. Saya gak bisa berbuat apa-apa dan saya juga gak mau bikin keributan hanya karena masalah tempat duduk. Tapi sumpah, saya paling suka sama window seat. Tak lama kemudian, kereta pun mulai berangkat.

Saya makin penasaran sara gerbong restorasinya. Akhirnya saya putuskan untuk pergi ke gerbong tersebut dan makan di sana. Saya memesan nasi goreng dan minuman susu Milo. Rame juga di sana. Bahkan yang duduk di sana kebanyakan penumpang kelas ekonomi yang ogah duduk di kursi mereka. Kursi mereka juga gak bisa diputar 160 derajat.

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam, akhirnya saya tiba di  Cirebon. Di Cirebon, saya langsung menuju ke luar area stasiun untuk wisata kuliner di sekitar area stasiun. Kebetulan kereta terusan saya (Taksaka Malam) berangkatnya pukul 23.48 WIB. Jadi, saya masih punya waktu sekitar satu setengah jam-an lagi untuk menikmati kota Cirebon. Saya memilih untuk makan empal gentong. Jujur saja, makanan ini belum pernah saya coba sebelumnya. Kalo cita rasanya, sudah pernah saya coba di produk mie instant.
Stasiun Cirebon


Saya makan di salah satu warung kecil persis di seberang stasiun. Harganya juga murah, hanya Rp.20.000/ porsi. Setelah selesai makan, saya langsung kembali ke stasiun sembari menunggu kereta Taksaka Malam yang menuju ke Yogyakarta. Saya menunggu di ruang tunggu persis di depan apron stasiun.

Tak lama kemudian, kereta saya pun datang. Saya langsung naik ke kereta dan mencari tempat duduk saya. Entah saya penumpang satu-satunya yang naik dar Cirebon atau mungkin saya kurang memperhatikan, saya adaalah satu-satunya penumpang yang naik dari Cirebon. Saya duduk di kursi 3A (window seat) gerbong ke-1. Kebetulan penumpang di sebelah saya (3B) duduknya tetap di tempat dia. Jadi, saya bisa duduk di dekat jendela yang memang itu tempat duduk saya.

Penumpang di samping saya ternyata adalah rombongan dari Jakarta yang berlibur ke Yogyakarta. Tapi saya jadi mengambil kesimpulan kalau tempat duduk saya adalah tempat duduk yang sebelumnya pernah dipesan teman mereka yang batal berangkat. Saya pun langsung duduk di kursi 3A.

Di perjalanan, saya tertidur dan kadang sesekali terbangun karena guncangan dan suara kereta. Meskipun begitu, saya sangat menikmati perjalanan ini. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 4,5 jam. Akhirnya saya tiba di Yogyakarta. Keretanya mengalami keterlambatan kedatangan sekitar beberapa menit dari yang dijadwalkan.

Setelah tiba di Stasiun Tugu, saya langsung berjalan kaki dan bertanya kepada tukang becak mengenai halte Trans Jogja untuk menuju ke Candi Prambanan. Tak disangka juga saya ternyata melewati Tugu Yogyakarta yang kebetulan menjadi salah satu icon kota Yogyakarta. Langsung deh saya sempetin fotoTugu tersebut.

Setelah selesai berfoto, saya langsung bertanya ke orang-orang di sekitar pasar dekat Tugu Yogyakarta mengenai halte Trans Jogja. Setelah mendapatkan informasinya, saya langsung menuju ke halte Trans Jogja. Jaraknya hanya beberapa ratus meter dari bunderan Tugu Yogyakarta. Sampai sana ternyata haltenya belum buka. Mereka bilang, haltenya buka mulai pukul 06.30 WIB.
Halte Trans Jogja

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya petugasnya datang dan membuka haltenya. Saya pun langsung membeli tiketnya seharga Rp. 3.500. Untuk menuju ke Candi Prambanan, saya harus naik 2 kali bis Trans Jogja (1 kali transit). Meskipun begitu, untuk naik bis yang ke-2 saya tidak perlu bayar lagi alias bayarnya hanya 1 kali saja, bahkan untuk ke semua rutenya.

Tak lama kemudian, bisnya pun datang. Saya pun langsung naik bis tersebut. Saya lupa petugasnya nyuruh saya turun di mana. Pas liat petanya pun saya bener-bener gak ngerti walaupun udah dijelasin beberapa kali sama mbaknya. Tapi saya salut sama dia karena dia mau mengajarkan saya dengan baik. Akhirnya, saya pun naik bis tersebut. Saya lupa kode bis yang saya naiki.

Setelah beberapa menit, tibalah saya di halte (entah di mana), saya pun langsung turun. Lalu saya bertanya lagi kepada petugas dan orang di sekitar helte. Mereka pun memberitahu saya mengenai bisnya. Tak lama saya diberitahukan untuk naik bis (lupa kodenya) yang ke arah Prambanan. Kata mereka saya gak usah bayar lagi dengan catatan saya belum keluar halte.

Saya langsung naik lagi, dan beberapa menit kemudian tibalah di sebuah halte lagi (saya juga gak tahu nama lokasinya). Petugasnya langsung teriak "Prambanan... Prambanan...". Saya langsung turun dakn keluar halte. Lalu saya tanya lokasi Prambanan di mana. Lalu, mereka memberitahukan saya bahwa Prambanan masih jauh dan harus naik bis Trans Jogja lagi. Hadeuh...!!! Berarti maksud teriakan petugas di bis tadi tuh ngasih tahu ke calon penumpang di halte dan bukannya udah nyampe Prambanan. *sayanya yang salah paham hehe...*.

Akhirnya, saya langsung masuk ke halte lagi. Kali ini saya harus bayar karena saya tadi sudah keluar dari halte. Saya juga tanya ke petugsanya bis yang ke arah Prambanan. Lalu dia ngasih tau nomor bisnya dan dia bilang saya gak harus turun lagi karena tujuan akhirnya memang di Candi Prambanan. Tak lama kemudian, bisnya datang dan saya pin langsung naik. Bisnya juga melewati beberapa halte termasuk bandara Adi Sutjipto Yogyakarta. Tak lama kemudian, tibalah saya di halte dekat pasar (Persis di seberang tempat wisata Candi Prambanan).

Saya kemudian turun dan berjalan kaki mencari pintu masuk ke kawasan Candi Prambanan. Agak jaug juga sih!!! Tapi saya sangat menikmati perjalanan ini. Apalagi, ketika saya melewati gapura perbatasan Yogyakarta-Klaten. Setelah beberapa menit berjalan kaki, tibalah saya di kawasan Candi Prambanan. Saya pun langsung mencari ticket counter untuk membeli entrance ticket-nya. Setelah membeli tiketnya (Kalo gak salah Rp. 30.000). Saya pun langsung masuk ke kawasan tersebut
Perbatasan Klaten-Yogyakarta


Pas saya masuk, tempatnya masih sepi. Boleh dibilang saya adalah pengunjung ke-4 (kalo dalam kategori rombongan). Tapi, hal ini justru menguntungkan saya karena saya bisa mengeksplor tempat tersebut tanpa harus terganggu dengan pengunjung lain. Sebelum masuk ke Prambanan, saya juga diharuskan memakai sarung yang telah disediakan pengelola (gratis).

Wearing sarong


Setelah memakai sarung, akhirnya saya langsung menuju ke Candi Prambanan. Candinya begitu megah dan menjulang tinggi. Saya pun mencoba mengunjungi beberapa bagian dalam candi. Agak ngeri juga sih sendirian masuk. Soalnya gelap banget meskipun udah pagi. Karena cahaya mataharinya pun gak bisa masuk ke dalamnya.
Di dalam candi Prambanan


Di kawasan ini bukan hanya ada candi Prambanan saja, tapi juga banyak candi-candi lainnya. Setelah selesai mengunjungi Candi Prambanan, saya pun langsung ke Candi lainnya yang memang berada di kawasan Candi Prambanan juga. Di sini juga terdapat museum dan ruang audio visual yang menceritakan tentang sejarah Candi Prambanan.

Saya penasaran dengan isi benda yang ada di musiumnya. Akhirnya saya memutuskan untuk masuk ke museum tersebut (tanpa biaya tambahan). Di museum tersebut terdapat beberapa barang peninggalan bersejarah yang usianya sudah cuckup tua. Museumnya terbilang cukup dingin dengan pendingin ruangan di mana-mana. Pokoknya nyaman deh!!!

Museum

Tak lama kemudian, saya tiba di ruang audio visual (masih di dalam museum). Untuk masuk ke ruangan audio visual kita dikenakan biaya Rp.10.000. Ruangannya dapat menampung hingga puluhan orang dan dilengkapi dengan pendingin ruangan. Sambil menonton tayangan mengenai sejarah Candi Prambanan, saya juga meminta izin untuk ikut charging baterai kamera saya yang memang sudah habis.

Setelah selesai menonton tayangan mengenai candi Prambanan dan charging kamera saya, saya pun langsung melangkah keluar area musium. Saya bingung harus ke mana lagi. Akhirnya, saya melangkah menuju jalan keluar area kawasan Candi Prambanan. Sebelum keluar, saya mampir dulu ke toko souvenir yang ada di kawasan Candi Prambanan. Tenang, harganya juga miring kok!!! Tapi ingat, anda harus pintar menawar supaya gak kemahalan dan bisa beli banyak barang. Saya membeli miniatur candi Prambanan dan gantungan kunci. Selain itu, di sini juga ada yang menjual makanan khas Jogja.

Setelah belanja oleh-oleh khas Jogja. Saya langsung pergi ke bandara. Saya pun harus berjalan kaki sekitar beberapa ratus meter menuju ke pasar dekat halte Prambanan. Di sana, saya langsung mencari kamar mandi untuk mandi. Maklum lah, saya belum mandi. Hehe.... Setelah mandi, saya langsung menuju halte TransJogja dan langsung pergi menuju ke bandara.

Sesampainya di bandara, saya langsung menuju ke ticketing office AirAsia. Tujuannya untuk memilih tempat duduk di pesawat (extra charge). Saya memilih window seat nomor 9F persis di bagian depan sayap yang harganya Rp 30.000. Pengennya sih di hot seat yang exit row. Tapi mahal banget, harganya Rp. 120.000. Setelah saya memilih tempat duduk, saya langsung mencari executive lounge.

Mata saya melihat ada tulisan Blue Sky Executive Lounge. Hhmmm... Pernah saya baca di internet. Akhirnya, saya putuskan melangkahkan kaki saya untuk masuk ke Blue Sky Executive Lounge. Pertama kalinya sih saya masuk ke Executive Lounge. Ini juga pertama kalinya saya naik pesawat. Oh, iya! lounge ini juga menyediakan jasa check-in lho!!! Jadi, kita gak perlu ikut antri. Intinya, kita tinggal duduk manis, makan, dan minum sepuasnya. Yang urus keperluan check-in (termasuk bagasi) itu adalah petugas lounge-nya.
Blue Sky Executive Lounge


Biaya untuk menikmati ruang tunggu eksekutif (Executive Lounge) Blue Sky adalah Rp. 85.000. Sekalian deh minta jasa check-in dan bayar pajak bandara Rp. 35.000 (total Rp. 120.000). Untuk proses chek-in, kita diharuskan untuk memberikan identitas asli. Dan pada saat pesawat boarding, kita bakalan dipanggil dan diberikan boarding pass-nya.

Bukan cuma itu saja lho!!! Untuk masuk ke pesawat, kita disediakan jalur antrian khusus. Jadi, kita gak usah ikut antrian panjang di boarding gate. Bahkan, untuk sampai di depan pintu pesawatnya pun kita akan diantar dengan mobil milik Blue Sky Executive Lounge. Jadi, kita gak perlu capek-capek jalan kaki untuk menuju ke pesawat. Kalau pesawatnya diparkir jauh dari lounge, gak perlu khawatir kan!!!!


Jam masih menunjukan pukul 11.00 WIB. Sementara penerbangan saya itu pukul 16.05 WIB. Jadi, masih harus nunggu 5 jam-an lagi. Haha....!!! Tapi gak apa2, nunggunya kan sambil ngeliatin pesawat yang lagi taxi. Seru juga sih ngeliating ground service staff yang sibuknya minta ampun. Oh iya, di lounge ini juga terdapat kaca yang pemandangannya langsung tembus ke tempat parkir dan landasan pacu pesawat.


Selama di lounge, saya hanya menghabiskan waktu dengan makan dan nonton TV. Makanan di sini cukup lengkap. Mulai dari makanan ringan sampai berat pun semuanya tersedia. Namun yang saya suka itu tempe gorengnya yang yummy banget. Apalagi kita juga bisa lihat proses penggorengannya. Minumannya juga cukup beragam, mulai dari teh sampai jus semuanya tersedia di sini. Bukan cuma itu aja, di sini juga disediakan fasilitas charge gratis dan dan internet gratis

Selfie di lounge

Setelah menunggu selama 5 jam, tibalah waktunya untuk boarding. Petugas lounge langsung memberikan boarding pass dan KTP (Kartu Tanda Penduduk) asli yang tadi dipinjam untuk proses check-in. Setelah itu, saya langsung menuju ke gerbang keberangkatan. Oh iya! gerbang keberangkatan saya beda sama penumpang lain. Gerbang keberangkatannya yaitu melalui pintu belakang Executive Lounge. Tapi, pemeriksaannya sama seperti di boarding gate yang lain.

Saya naik pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan QZ-7551. sesuai dengan peraturan, yang masuk ke pesawat terlebih dahulu adalah penumpang dengan fasilitas tempat duduk hot seat dan hi-flyer. Namun karena antrian saya berbeda, pada kenyataannya saya lah penumpang pertama yang masuk ke pesawat. Padahal saya duduk di standard seat. Asyiikkkk!!!! Tadinya saya mau diantar dengan mobil sampai ke depan pintu pesawat oleh petugas lounge. Namun, saya menolaknya dan lebih memilih jalan kaki karena jaraknya juga tidak terlalu jauh.
Belum penumpang ada yang naik ke pesawat

Setelah masuk ke pesawat, saya langsung mencari tempat duduk saya. Saya duduk di kursi 9F. Penumpang di sebelah saya adalah seorang ibu (9D) dan anak laki-lakinya yang masih berumur belasan tahun (9E). Tak lama kemudian, pesawat pun bergerak dan menuju landasan pacu. Peragaan keselamatan pun dimulai. Namun tiba-tiba, ada air menetes persis di atas kepala ibu tersebut. Sontak dia juga kebingungan apa yang menetes. Namun, saya juga ikut mengamati apa yang sebenarnya menetes.
 
Pramugara dan pramugari Air Asia langsung deh nyariin tissue buat lap yang basah dan menyumpal lobang yang bocor tersebut. Karena peragaan keselamatan sudah dimulai, akhirnya saya sarankan kepada pramugarinya untuk memindahkan si ibu ke tempat duduk yang masih kosong. Namun, mereka tampaknya kurang respon. Singkat cerita, si ibu tetap duduk di tempatnya sampai pesawat take off.


Setelah lampu tanda sabuk pengaman dipadamkan, pramugari langsung membuka overhead compartement karena memang airnya menetes dari sana. Mereka pun meminta si ibu dan anaknya untuk pindah ke kursi hot seat. Usut punya usut, ternyata air tersebut berasal dari salah satu tas penumpang. Ketika di tanyakan kepada para penumpang mengenai siapa pemilik tas tersebut, tak satu pun dari mereka yang mengakuinya. Sementara pramugari tidak berani membukanya karena itu adalah barang milik penumpang.

Karena tak ada satu penumpang pun yang mengaku, akhirnya tas tersebut dibawa oleh pramugarinya. Bahkan, salah satu penumpang pun menyarankan kepada pramugarinya untuk membuka tas tersebut. Ternyata, air tersebut merasal dari botol minuman yang tidak tertutup rapat hingga akhirnya menimbulkan kebocoran. Haduhhh!!!! Ada-ada saja.

Eh saya lupa cerita pas waktu take off. Take off-nya berjalan mulus di tengah cuaca mendung. Namun, pesawat pun dibelokkan ke kiri dengan tajam. Mungkin, untuk menghindari cuaca buruk kali. Ngeri sih!!! Tapi sumpah, keren abis sensasinya!!! Entah kenapa saya jadi terpaku gitu. Maklum lah, ini pertama kalinya saya naik pesawat *norak*. Bahkan, saya gak ada perasaan khawatir sama sekali ketika terjadi turbulensi.


Setelah 1 jam terbang, akhirnya tibalah saya di bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Setelah tiba, saya langsung menuju ke tempat claim bagasi saya. Setelah mengambil tas saya, akhirnya saya melangkah menuju ke pintu keluar. Namun, saya mampir dulu ke toilet yang ada di lantai 2. Toiletnya cukup bersih dan nyaman. Bahkan hampir setiap saat dibersihkan. Selain itu, ada pula tempat penyimpanan untuk barangnya juga.

Setelah ke toilet, akhirnya saya putuskan naik bis untuk pulang ke Karawang. Saya naik bis Primajasa (Executive Class) yang transit di rest area KM 57 Klari, Karawang. Biayanya kalo tidak salah RP. 95.000 (agak lupa). Tapi, ada pengalaman pahitnya juga. Ketika terjadi hujan, ada rembesan air dari atas persis di lobang AC (Air Conditioner). Mau pindah, tapi gak ada tempat lagi selain di ruang smoking area. Haduh!!! Hari ini mungkin temanya bocor kali!!! Hehe...

Setelah menempuh perjalanan kurang dari 3 jam, tibalah saya di rest area KM 57. Setelah saya turun dari bis, saya langsung melanjutkan perjalanan dengan naik kendaraan umum. Dan akhirnya, saya tiba di rumah sekitar pukul 20.30 WIB.

Perjalanan kali ini benar-benar akan menjadi pengalaman yang berharga bagi saya. Terima kasih ya sob udah baca ceritanya dari awal sampai akhir. Semoga dapat membantu sobat semuanya!!!
Thanks.

Sabtu, 18 Januari 2014

Berlibur Ke Pulau Umang

Sebenarnya sih cerita ini udah lama banget (tanggal 07-08 September 2013), cuman baru sempet aja nulisnya. Maklum, orang sibuk. Hehe....

Saya terbangun oleh bunyi alarm di Sabtu pagi tepat pukul 04.00 WIB (udah disetting semalam). Sebenarnya saya masih ngantuk, tapi saya harus bergegas karena hari ini saya harus pergi ke Pulau Umang dalam acara Tour Keluarga Main Body Group (PT. TMMIN Karawang Plant). Akhirnya, saya langkahkan kaki saya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Selesai mandi, saya langsung bergegas menyiapkan itinerary saya supaya tidak ada yang tertinggal. Kemudian, saya bergegas pergi karena saya harus tiba di meeting point pukul 05.00 WIB (PT. TMIIN Plant 1 Karawang). Bisnya sih berangkat jam 05.30 WIB, tapi saya harus datang lebih awal untuk tahu posisi tempat duduk saya.

Setibanya di meeting point, saya langsung mencari bis yang nanti akan saya naiki (No. 3) dengan no kursi 27 A.Akhirnya saya menemukan tempat duduk saya. Tak lama, peserta pun mulai berdatangan masuk ke dalam bis. Bis rencananya diberangkatkan pukul 05.30 WIB. Akan tetapi, bis telat berangkat sekitar setengah jam karena ada peserta yang belum datang. Mulai deh, para penumpangnya ngedumel. Dan akhirnya, bis berangkat pada pukul 06.00 WIB.

Perjalanannya pun lumayan lama karena pulau Umang ini sangat berdekatan dengan Taman Nasional Ujung Kulon. Di perjalanan, kami sempat berhenti sebanyak 4 kali karena dikhawatirkan ada yang ingin pergi ke toilet. Jalanan menuju pulau Umang pun banyak yang berlubang dan hampir tidak pernah diperbaiki. Bahkan, di sepanjang jalan masih banyak sekali rumah-rumah ala pedesaan yang kehidupan warganya jauh sekali dari kesan perkotaan.

Setelah menghabiskan waktu sekitar 8 jam, akhirnya kami tiba di Pulau Umang. Jarak Pulaunya dari Pulau Jawa tidak terlalu jauh. Bahkan, pulau ini bisa terlihat dari kejauhan. Dulu saya sempet ngebayangin kalau pulau ini tuh jauh dari pulau Jawa, ternyata bayangan saya itu salah.Setelah tiba di dermaga, kami pun langsung beristirahat sejenak sembari menunggu giliran naik ke kapal. Saya sendiri masuk ke dalam rombongan terakhir untuk naik kapal.

Tak lama kemudian, pihak Pulau Umang Resort & Spa mengirimkan lagi motor boat supaya para peserta tidak terlalu lama menunggu di dermaga. Saya pun ikut ke motor boat tersebut supaya saya bisa cepat sampai ke pulau Umang. Waktu tempuhnya pun tidak terlalu lama karena hanya beberapa menit saja.

Sesampainya di Pulau Umang, kami langsung disambut dengan welcome drink dan cemilan ringan di lobby utama dan disamping kolam renang. Setelah itu, langsung dilanjutkan dengan sambutan oleh staff Pulau Umang Resort & Spa dan juga pembagian kamar untuk kami semua.

Saya mendapatkan kamar di nomor 118 bersama 3 orang lainnya. Kamar yang saya tempati ini menawarkan pemandangan Sunrise View. Kamarnya cukup bersih dan nyaman dan dilengkapi dengan extra bed untuk 2 orang. Hanya saja tidak ada bathtub dan toiletries-nya terbatas. Padahal kami itu tinggal berempat. Selain itu, televisinya hanya ada di lantai 1. Dan yang paling saya sukai adalah design dari kamar mandinya yang unik.

Setelah selesai menyimpan barang-barang di kamar, saya pun langsung explore pulau Umang bersama teman saya. Uniknya, di pulau ini ada monumen yang di atasnya terdapat bola dunia mini seperti yang ada di Universal Studio lengkap dengan tanda tangan Ratu Atut Choisiyah yang saat itu menjabat sebagai bupati Banten.

Selain itu, kami juga sempat berburu sunset di pulau Umang dan berfoto bersama. Di pulau Umang sendiri, kita bisa melihat sunrise dan sunset yang begitu indah. Beberapa dari kami pun ada yang melakukan aktivitas seperti bermain banana boat, doughnut boat, dan wake slide. Sebenarnya saya malas main basah-basahan. Akan tetapi, saya malah tergiur untuk berfoto di atas batuan yang ada di pantai. Dengan terpaksa saya harus terkena percikan ombak. Setelah selesai explore dan berenang di pantai, saya langsung membersihkan diri.

Malamnya, kami langsung melakukan makan malam dan acara ramah tamah. Selain itu, ada juga permainan dengan hadiah yang menarik dan karaoke bersama. Acaranya seru dan penuh dengan kretifitas juga penuh dengan pengetahuan. Bukan cuma itu, pertanyaan mengenai keagamaan pun ada yang dijadikan pertanyaan. Tujuannya, supaya kita peka terhadap sesuatu hal, termasuk keagamaan. Temen saya ada yang dapat lemari es lho!!!! Setelah acaranya selesai, saya langsung menuju ke kamar saya dan langsung tidur.

Paginya, saya langsung sarapan di lounge Pulau Umang. Di sana saya mengambil menu makanan nasi goreng dan diakhiri dengan dessert toast lengkap dengan butter-nya. Soalnya ada toaster-nya juga lho!!! Setelah selesai sarapan, saya langsung bergegas untuk melakukan watersport (snorkeling). Kegiatannya sendiri dilakukan di pulau Oar (sebelahnya pulau Umang).

Terumbu karang di sekitar pulau Oar sangat indah. Coral-nya juga sangat bagus. Udah gitu, pasirnya berwarna putih. Lebih putih daripada di pulau Umang yang warnanya lebih kekuningan. Di sini juga terdapat Umang yang jejaknya dapat diketahui dari goresan garis di sekitar pantai. Tak lupa saya juga membawa beberapa pecahan coral yang memang banyak tersedia di pulau Oar sebagai cinderamata. Tapi, coral yang saya ambil adalah coral yang sudah mati yang terbawa ombak hingga ke bibir pantai.

Setelah selesai snorkeling, kami pun kembali ke pulau Umang. Saat di perjalanan, kami sempat berpapasan dengan drummer band Netral Eno Gitara Riyanto yang kebetulan dia juga sedang berlibur di Pulau Umang. Ach....!!! Sial banget saya gak bisa foto bareng. Tak lama kemudian, tibalah kami di Pulau Umang. Setelah itu, saya langsung kembali ke kamar saya dan membersihkan diri.

Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, saya langsung menuju ke lounge untuk makan siang sebelum tiba waktunya pulang. Kami semua berkumpul di tempat tersebut sambil bersantai menunggu waktu pulang. Setelah itu, kami langsung bergegas naik ke kapal untuk menyebrang kembali ke Pulau Jawa (Taman Nasional Ujung Kulon).

Sesampainya di sana, kami langsung bergegas masuk ke dalam bis dan pulang menuju ke Kota Karawang pada pukul 02.00 WIB. Di perjalanan, kami juga sempat berhenti di salah satu pusat oleh-oleh khas Banten. Setelah selesai belanja, akhirnya perjalanan kembali dilanjutkan kembali. Saya pun tertidur di dalam bis hingga tiba di Kota Karawang tepat pada tengah malam.

Setelah tiba kembali di PT. TMIIN, akhirnya saya bergegas untuk pulang ke rumah naik motor yang kebetulan diparkir di sana. Meskipun masih ngantuk saya coba melek-melekin. Bahaya juga sih!!! Kocaknya lagi, saya malah lupa harus belok di mana. Untung saja teman saya ngikutin dari belakang dan ngejar pake motornya. Dan saya pun akhirnya tersadar kalau belokannya udah kelewat. Ni gara-gara ngantuk dan pemandangan malam hari yang agak remang gitu. Tapi syukurlah, saya akhirnya bisa tiba di rumah dengan selamat.

Sabtu, 17 Agustus 2013

Naik Kereta Api dengan Harga Spesial Promo Lebaran

Berawal dari munculnya tiket promo lebaran yang diluncurkan oleh PT. KAI (Kereta Api Indonesia) di musim lebaran tahun 2013 ini, gue langsung deh berburu tiket promonya. Harganya sangat murah sob, cuma Rp. 10.000 untuk berbagai tujuan di Indonesia. Bukan cuma itu, tiket promonya pun tersedia untuk semua kelas. Mulai dari kelas ekonomi, bisnis, dan bahkan eksekutif, semuanya kebagian sob.

Karena tiket Harina dari Cikampek ke Bandung gak ada promo (keberangkatan tanggal 17 Agustus 2013), gue langsung pesen dulu tiket yang ke Tasikmalaya-nya (sekalian nunggu tiket promo Harina). Gue pesen 2 tiket via website PT. KAI di http://www.kereta-api.co.id. 1 untuk gue, dan yang 1 lagi buat gue sendiri. Kebetulan keponakan gue harus balik lagi ke pesantren tempat dia belajar sebelum tanggal 19 Agustus 2013. Setelah pesan, gue pun langsung melakukan pembayarannya di Alfamart.

Tapi, gue lupa kalau hari sabtu (17 Agustus 2013) gue tuh pulang kerjanya pagi. Ya, apa mau dikata, gue kan udah bayar tiketnya. Satu hal yang perlu diketahui, tiket promonya gak bisa dikembaliin. Mau berangkat atau kagak, tuh tiket gak bisa dituker dengan uang (kalau batal). Tapi ya udah lah, toh cuma Rp. 20.000 ini (2 tiket) ditambah biaya administrasi Rp. 7.500.

Karena gue pengen banget ngerasain naik kereta eksekutif (maklum, belum pernah naik), gue nyoba nyari tiket promo Harina buat tanggal 17 dan 18 Agustus 2013 dengan tujuan Bandung-Cikampek. Sementara itu ke Bandungnya gue berencana naik Argo Parahyangan dengan tujuan akhir Bandung dari stasiun Purwakarta. Tapi, gue belum bisa pastiin jadi pergi atau enggak. Yang jelas, gue gak berani beli tiket kereta Argo Parahyangan dari Purwakarta ke Bandung dengan terburu-buru. Makannya, gu cek secara berkala ketersediaan tiketnya di http://www.tiketkai.com.

Sepulang kerja iseng-iseng buka website http://www.tiketkai.com. Di sana gue coba cari tiket kereta tujuan dari Tasik ke Cikampek. Gue sendiri  nyarinya tiket terusan Tasikmalaya-Bandung dan dilanjutkan dengan Bandung-Cikampek. Sebenarnya dari Tasikmalaya ada juga kereta Serayu tujuan Kroya-Jakarta. Tapi, keretanya cuma kelas ekonomi AC dan juga gak berhenti di Cikampek. Secara, gue maunya naik yang eksekutif. Bukan maksud sombong sih, tapi gue ogah berdesakan dalam kereta.

Setelah coba nyari-nyari, akhirnya gue nemu tiket kereta Argo Wilis yang harganya cukup murah, yaitu cuma Rp. 85.000 dengan kelas eksekutif dari Tasikmalaya menuju Bandung dengan keberangkatan tanggal 18 Agustus 2013 (di infonya tersisa 2 tiket). Setelah itu, dilanjutkan dengan kereta Harina (tiketnya udah punya untuk keberangkatan tanggal 18 Agustus 2013). Nah, sontak gue langsung buru-buru nelpon ke 121 buat pesen tiket kereta Argo Wilis dari Tasikmalaya menuju Bandung biar gak kehabisan tiket.

Saat gue nelpon ke 121, untung aja tiket kereta Argo Wilis yang harganya Rp. 85.000 itu masih tersisa 1. Langsung deh gue minta di-booking-in tiketnya ke petugas Customer Service-nya. Sialnya lagi, waktu itu gue ada di rumah kakak gue dan gue gak bawa KTP buat verifikasi datanya. Sontak gue langsung mohon-mohon ke petugasnya buat nunggu beberapa menit karena jarak rumah gue sama kakak ke-6 gue sekitar 500 meteran. Dengan sabarnya si mbak-nya mau nunggu. Sungguh pelayanan yang sangat baik. Setelah itu, gue langsung bayar deh di Alfamart.

Hari ini adalah hari dimana gue naik kereta api dengan kelas eksekutif untuk yang pertama kalinya.Gue berangkat dari stasiun Tasikmalaya. Kereta yang pertama gue naikin adalah kereta Argo Wilis. Jadwal keberangkatannya adalah pukul 16.09 WIB. Akan tetapi, keretanya telat hingga 20 menit dan baru berangkat sekitar pukul 16.30 WIB. Tapi, gue bersyukur juga keretanya telat. Gue juga sebenarnya rada telat datang ke stasiunnya.

Gue duduk di gerbong 2 deket jendela. Pintu penghubung antara gerbong 1 ke gerbong lainnya pun dengan menekan tombol (tanpa harus digeser). Di situ, gue bisa liat pemandangan pegunungan yang indah sejauh mata memandang. Ditambah lagi dengan bayangan senja sore yang kekuningan yang memancar ke arah gunung. Pokoknya indah banget deh.

Gak lama perut mulai keroncongan dan minta diisi. Gue pun langsung menuju ke gerbong makan dan pesan makanan di sana. Gue pesen sapi lada hitam (RP. 30.000) dan kopi susu (10.000). Alhamdulillah berasa nikmatnya makan di atas kereta sambil menikmati pemandangan yang indah. Setelah bayar tagihannya, gue pun kembali ke tempat duduk gue.

Setelah gue balik ke tempat duduk gue, gue langsung menikmati tontonan KA TV (channel khusus di kereta api). Gue disuguhin film berjudul "IN TIME" yang diperanin sama Justin Timberlake. Filmnya jadi ngingetin gue ke kata "Just In Time" yang sering digaungkan di perusahaan tempat gue kerja. Gue nonton tuh film ampe kelar. Seru juga sih filmnya.

Tak lama kemudian, tibalah gue di stasiun Bandung. Keretanya telat lebih dari 30 menit. Tak apalah, toh kereta Harina yang nanti saya bakal naikin menuju Cikampek juga berangkatnya juga pukul 20.45 WIB. Sesampainya di stasiun Bandung, gue langsung menuju ke tempat verifikasi data (kalo di bandara kayak semacam Counter Check-in gitu deh). Setelah dicap stempel, gue langsung nunggu keretanya buat boarding. Tak lama kemudian, keretanya mualai boarding dan seketika itu gue langsung masuk ke dalam kereta.

Ternyata, gue salah tempat duduk. Kirain di gerbong 2, padahal di gerbong 1. Soalnya gue salah lihat no gerbong (malahan lihat tike kereta Argo Wilis yang baru saja gue naikin). Tak lama kemudian, kereta pun mulai berangkat. Sayangnya, kali ini gue gak bisa lihat pemandangan pegunungan karena sudah malam. Yang ada hanya melihat serangkaian lampu-lampu di sepanjang jalur kereta api.

Tak lama kemudian, samapailah di kota Purwakarta (transit). Stasiun Purwakarta dipenuhi hiasan lampion yang indah (sebelumnya ada festival budaya Asean yang digelar di Purwakarta beberapa waktu lalu). Tak lama kemudian, kereta pun diberangkatkan kembali dan akhirnya, tibalah di stasiun Cikampek. Setelah itu, gue langsug turun dari kereta dan naik kendaraan umum menuju ke rumah gue.

Pokoknya, pengalamannya benar-benar seru abissss........

Minggu, 21 Juli 2013

Pengalaman Pertama Naik Kereta Api

Hye sob, kali ini gue mau ceritain pengalaman pertama gue naik kereta api. Semoga kalian gak bosen baca cerita gue ini ya!

Saat gue bertandang ke rumah kakak ke-6 gue di Awipari Tasikmalaya beberapa waktu lalu, dia sempet nyeritain kalau sekarang tiket kereta bisa dipesan di stasiun Awipari yang jaraknya cuma beberapa meter dari rumah kakak gue yang 1 komplek sama Pondok Pesantren Al-Khoeriyah Awipari, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Mendengar kakak gue cerita tentang kereta, gue malah penasaran poengen naik kereta. Akhirnya gue minta kakak gue buat nanya-nanya ke petugas stasiun kereta api Awipari mengenai harga tiket dari Awipari menuju ke Cikampek. Itupun mesti diingetin dulu via telepon biar dia inget buat nanya ke petugasnya. Secara, gue kan tinggal di Karawang.

Daripada gue harus nunggu lama info dari kakak gue, lebih baik gue cari aja infonya di internet. Gue sempet browsing dan nyari website resmi PT. Kereta Api Indonesia karena gue sendiri gak tahu website resminya apa. Setelah nemu websitenya akhirnya gue klik tuh website. Website resminya itu adalah http://www.kereta-api.co.id. Sempet kecewa sih.... gara-garanya gak ada rute Awipari-Cikampek (gak ada yang transit di kedua stasiun tersebut. Yang ada cuma Tasik kota dan turun di Purwakarta. Itu juga naiknya kereta jurusan Kroya-Jakarta.

Minggu, 10 Juli 2013.
Hari itu adalah hari di mana gue main ke rumah kakak ke-5 gue. Di sana juga ada keponakan gue yang lagi liburan di sini (Karawang). Nah, kebetulan dia gak ada yang nganterin balik lagi ke Tasik, akhirnya kakak gue minta gue buat nganterin keponakan gue balik ke Pondok Pesantren Al-Khoeriyah Awipari Tasikmalaya. Sontak gue bilang setuju sekalian pengen nyoba naik kereta pas pulangnya.

Kamis, 11 Juli 2013.
Sepulang kerja malam (pulang pagi), gue nelpon 121 buat pesen tiket dari Tasikmalaya ke Purwakarta (keretanya gak transit di Cikampek). Akhirnya gue dikasih kode pembayarannya sama petugasnya. Pembayarannya pun hanya berjarak sekitar beberapa jam dari waktu pemesanan. Akhirnya gue langsung meluncur ke ATM (Anjungan Tunai Mandiri). Tapi sayang yah, bank tempat gue nabung gak mendukung fasilitas pembayaran tiket kereta api.

Setelah gagal melakukan pembayaran di ATM, akhirnya gue meluncur ke kantor pos buat melakukan pembayaran tiketnya. Kali ini gue mampir ke kantor pos di Purwasari yang jaraknya gak jauh-jauh amat dari rumah gue. Biasanya gue ke kantor pos Cikampek. Nah, di sana gue disambut sama petugas yang ramah dan welcome banget. Langsung deh gue kasih tau tujuan gue ke kantor pos tersebut. Terus, gue kasih juga nomor verifikasi pemesanan tiket keretanya.

Setelah melakukan pembayaran, akhirnya dicetaklah tuh bukti pembayarannya. Sebelum diserahin ke gue, dia cek dulu resinya sekalian dia pengen tahu kayak apa sih bukti pemesanan tiket kereta api itu. Mungkin, itu juga pertama kalinya bagi petugas tersebut melayani pelanggan yang melakukan pembayaran tiket kereta. Dia juga sempet tanya-tanya ke gue gitu. Setelah selesai, akhirnya gue langsung pulang.

Sabtu, 13 Juli 2013.
Hari ini gue nganter keponakan gue buat balik ke Tasikmalaya. Sepulang kerja (pulang pagi), gue langsung bergegas pergi meskipun dalam keadaan ngantuk berat. Setelah itu, tibalah gue di rest area KM57 dengan diantar kakak gue naik motor terpisah dengan keponakan gue yang diantar oleh kakak ipar gue. Kebetulan, rest area KM57 itu merupakan shelter bis ke beberapa tujuan (arah timur).

Tak lama kemudian, datanglah bis tujuan kota Tasikmalaya dengan kelas Eksekutif. Bis yang kami naiki berangkat sekitar pukul 10.00WIB.  Sayangnya, bisnya gak ada bantalnya. Padahal biasanya ada. Bisnya hanya diisi oleh beberapa penumpang saja. Karena banyak bangku yang kosong, keponakan gue pun duduk sendiri. Perjalanannya pun terbilang cukup lancar dan hampir tidak ada hambatan. Hanya saja bisnya sempat berhenti agak lama di tempat istirahatnya. Kami tiba di Kota Tasikmalaya sekitar pukul 02.30.

Sesampainya di Pool bis yang kami naiki, kami langsung melanjutkan perjalanan ke stasiun Awipari, Tasikmalaya, dengan menggunakan angkutan kota. Untuk sampai ke Awipari, kami harus naik angkutan kota sebanya dua kali. Yang pertama, kami naik angkutan kota no. 05 tujuan Terminal Pancasila. Setelah itu, kami lanjutkan dengan naik angkutan no. 01 dengan tujuan terakhir Terminal Cibeureum. Tak lama kemudian, tibalah kami di Pondok Pesantren Al-Khoeriyah, Awipari, Tasikmalaya.

Sesampainya di sana, kami langsung bergegas ke rumah kakak ipar gue yang rumahnya tepat di depan Masjid Jamie Al-Khoeriyah, Awipari, Tasikmalaya. Gue pun langsung disambut sama kakak ke-6 gue dan keponakan-keponakan gue (anak dari kakak gue). Gue pun akhirnya nginep di sana.

Minggu, 14 Juli 2013.
Tepat pukul 03.00 dini hari, kakak gue bangunin gue buat sahur. Gue paksain nih mata buat melek meskipun agak ngantuk dan capek setelah perjalanan kemarin. Setelah selesai sahur dan sholat subuh, gue pun langsung tidur kembali karena masih ngantuk. Tapi, gue harus bangun pagi-pagi karena kakak gue ngajakin gue ke Dadaha sebelum gue pulang ke Karawang.

Tepat pukul 06.30 WIB, gue pun kebangun. Tapi ternyata, kakak gue masih tidur. Gak enak dong kalo gue bangunin dia buat ngajakin gue ke Dadaha. Akhirnya, gue juga malah malas-malasan di tempat tidur. Gak lama kemudian, gue pun langsung mandi. Setelah selesai mandi, ternyata waktu menunjukan pukul 09.00 WIB.

Setelah selesai mandi, gue pun langsung packing buat pulang (ke Dadaha-nya gak jadi). Gue pun langsung bergegas untuk pergi ke stasiun kota Tasikmalaya buat nukerin resi pembayaran tiket dengan tiket yang aslinya. Meskipun ada stasiun Awipari di seberang jalan, tapi di situ bukanlah tempat transit kereta yang gue naiki. Jadwal kereta gue itu berangkat pukul 11.20 WIB. Tapi, gue harus verifikasi dan nukerin tiket maksimal 1 jam sebelum keberangkatan.

Selesai packing, ternyata mobil yang mau di pakai buat nganterin gue ke stasiun lagi dipake sama keluarga kakak ipar gue buat pergi ke Dadaha. Terpaksa deh gue harus naik sepeda motor buat ke stasiun-nya dengan diantar kaka ipar gue. Sesampainya di stasiun, gue langsung nukerin resinya ke tiket asli dan melakukan verifikasi ke petugasnya. Terus, gue langsung tunggu keretanya.

Selagi nunggu keretanya datang, ternyata kakak ke-6 gue juga nyusul naik angkot ke stasiun. Terus, kakak ipar gue jemput kakak gue di gang yang menuju ke arah stasiun kota Tasikmalaya. Kebetulan stasiunnya juga gak terlalu jauh-jauh amat dari Awipari. Sesampainya di sana, kakak gue langsung duduk nungguin keberangkatan gue.

Tepat pukul 11.10 WIB, bel di Stasiun pun berbunyi menandakan ada kereta yang akan tiba di stasiun tersebut. Tak lama kemudian, kereta gue pun datang. Akhirnya, gue pun langsung pamit ke kakak gue dan kakak ipar gue, serta keponakan gue. Gue pun langsung nanya ke petugasnya mengenai gerbong kereta gue. Di tulisannya sih K3-2, cuman gue gak ngerti masalah kayak gituan (soalnya baru pertama kali naik kereta). Ternyata gue itu duduk di gerbong ke-2 dari depan atau ke-3 jika dihitung dengan lokomotifnya.

Di tiket kereta gue, tertulis kalo gue duduk di bangku nomor 8E (dekat jendela).  Akan tetapi, di situ ada seorang perempuan yang tengah tertidur lelap yang kayaknya duduk di bangku 8D (sebelah gue). Akhirnya, gue terpaksa duduk di 8D yang posisinya di bagian dalam (gak dekat jendela). Padahal, gue tuh pengen banget lihat pemandangan pegunungan dari dalam kereta. Tapi, ya udahlah! Gue kan harus ngalah sama perempuan. Toh dia juga gak maksud buat duduk di situ.

Kereta yang gue naiki adalah kereta Serayu pagi (jadwalnya emang pagi). Kelasnya hanya tersedia kelas AC Ekonomi. Sebenarnya kereta ini dulunya adalah kelas Ekonomi, namun ada penambahan AC (Air Conditioner) batangan di dalamnya. Meskipun begitu, kaca jendelanya masih bisa dibuka karena belum dipatenkan.

Di beberapa stasiun, masih saja ada pedagang yang lalu lalang masuk ke dalam kereta api. Padahal, mereka itu sebenarnya dilarang berjualan di dalam kereta. Boleh dibilang sih, dulu pedagang asongan itu banyak banget yang jualan di dalam kereta (tanpa bayar tiket) alias gretongan. Selain mengganggu ketertiban dan kenyamanan penumpang, hal itu juga tentu bisa merugikan PT. KAI (Kereta Api Indonesia).

Nah, ada hal unik yang dilakukan oleh salah seorang pedagang perempuan yang usianya kira-kira separuh baya. Dia berjualan di dalam kereta Serayu yang gue naiki dengan cara bayar tiket. Boleh dibilang sih dia adalah satu-satunya pedagang asongan yang ada di dalam kereta Serayu ini. Mungkin itu juga salah satu trik dia supaya gak diusir keluar kereta. Saat ada pemeriksaan pun dia bisa menunjukkan tiketnya. Salut dah buat ibu yang satu ini!

Oh iya, perempuan tersebut juga sempat bercerita kepada penumpang lain mengenai alasan dia berjualan di dalam kereta dengan membayar tiket penuh. Keuntungan yang dia dapat ternyata lebih besar dari harga tiket yang harus dia bayar. Apalagi, dia itu satu-satunya pedagang asongan yang jualan di dalam kereta Serayu saat kereta berjalan. Sementara pedagang lain, hanya ketika kereta transit saja. Soalnya ada larangan juga dari petugasnya. Kebayang kan keuntungan yang dia dapet itu berapa??!!!

Tepat pukul 11.20 WIB, kereta pun mulai berangkat. Di perjalanan, gue disuguhi keindahan kuasa illahi yang belum pernah gue lihat sebelumnya karena ini pertama kalinya gue naik kereta api. Jalur keretanya pun melewati pegunungan yang tidak terlalu ramai dengan bangunan-bangunan seperti di perkotaan. Pokoknya indah banget deh dan sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Kereta yang gue naiki terdiri dari 5 gerbong (tidak termasuk lokomotif). Gerbong ke-1,2,4, dan 5 adalah gerbong penumpang, sedangkan gerbong ke-3 adalah gerbong restaurant. Meskipun ada gerbong restaurant, orang-orang lebih milih makan di tempat duduk mereka karena ada pelayan yang selalu stand-by buat melayani mereka.

Gue juga penasaran sih! Pengen tahu rasanya makanan di kereta Serayu yang gue naiki ini. Dengan berat hati, gue terpaksa membatalkan puasa gue hanya demi merasakan makanan di kereta Serayu ini. Mungkin ini adalah hal yang paling konyol yang pernah gue lakuin. Tapi, gue harap Allah mau maafin gue. Gue pun akhirnya pergi ke gerbong restaurant buat pesen makanan. Kalo gue pesen di tempat duduk gue, gue merasa gak enak sama penumpang lain yang lagi puasa. Gue juga kan respect mereka.

Sesampainya di gerbong restaurant, gue langsung pesen makanan dan minuman. Kali ini gue pesen menu makanan nasi goreng dan mie goreng, serta minumannya yaitu susu hangat. Harganya pun cukup terjangkau. Harga makanannya hanya Rp. 10.000, sedangkan minumannya hanya Rp. 5.000. Rasanya juga sangat enak. Setelah makan, akhirnya gue balik lagi ke tempat duduk gue.

Saat melewati Pegunungan di Bandung dan kawasan Cipularang, gue sempat memotret beberapa gambar dari balik pintu kereta dan ngeksis dikit di dalam kereta. Hehe...! Pemandangan yang disuguhkan terlihat sangat indah dan masih jauh dari keramaian. Dan bahkan, ada salah satu celah tebing yang mirip kayak scene di film Jurassic Park III (adegan saat Eric melepas parasutnya dari boat dan melayang diantara celah bukit yang indah).

Oh iya, kereta juga sempat melewati terowongan Sasaksaat yang panjang dan gelap (949M). Terowongan tersebut merupakan terowongan yang membelah bukit Cidepong. Meskipun begitu, banyak juga jalur kereta yang harus memutari bukit (bukan membelah bukit). Hal itulah yang membuat perjalanan kereta ini sedikit lebih memakan waktu. Coba deh kalian amati lintasan kereta di samping kiri dan kanan tol Cipularang. Kalian pasti bakalan ngerti maksud gue.

Pukul 03.05WIB (sesuai jadwal), tibalah gue di stasiun kereta api Purwakarta. Di sana gue langsung turun dan menunggu KRD (Kereta Diesel) untuk melanjutkan perjalanan ke stasiun kereta api Cikampek. Karena, kereta Serayu itu gak transit di stasiun Cikampek. Gue pun harus nunggu lebih dari 1 jam karena keretanya baru berangkat sekitar pukul 16.30 WIB. Loketnya pun baru dibuka sekitar pukul 16.15 WIB.

Saat loket dibuka, semua orang langsung berebut mengantri supaya dapat tempat duduk di dalam kereta (gak ada pengaturan tempat duduk). Harga tiketnya pun terbilang murah. Untuk tujuan Purwakarta-Cikampek saja harganya cuma Rp. 2.500. Setelah membeli tiket kereta, gue pun langsung masuk ke dalam kereta. Kereta KRD yang saya naiki kali ini sempat delay beberapa menit. Gara-garanya sih lokomotif dan gerbong barangnya harus dipindah dulu (dari depan ke belakang). Setelah delay beberapa menit, keretanya pun akhirnya berangkat juga.

Di perjalanan, kami pun disuguhi pemandangan yang indah. Bedanya, kali ini kebanyakan udah bercampur sama bangunan-bangunan yang sedikit mengganggu keindahan hijaunya alam ini. Keretanya pun ternyata bisa berhenti di mana saja (tidak selalu di stasiun). Tapi, berhentinya hanya di tempat tertentu saja yang biasanya banyak yang turun di situ.

Tak lama kemudian, kereta pun tiba dan berhenti di stasiun Cikampek (lupa jam berapa tibanya). Gue pun langsung turun dan berjalan mencari angkutan umum. Setelah itu, gue pun langsung meluncur pulang ke rumah dan tiba di rumah tepat dengan waktu maghrib tiba.

Note:
Pengalaman ini merupakan pengalaman yang mengesankan bagi gue karena ini pertama kalinya gue naik kereta meskipun gue sendiri kurang puas (karena gak dapat kelas Eksekutif), dan keretanya gak transit di Cikampek. Perjalanannya pun lumayan lama, bahkan lebih lama dari naik bis dalam keadaan lancar. Soalnya, gue harus naik turun kereta 2 kali karena gak ada yang transit di Cikampek. Tapi, gue salut deh sama pelayanan PT. KAI yang sangat memuaskan.

Semoga cerita ini gak ngebosenin bagi kalian yang udah membacanya. Atas perhatiannya, gue ucapin terima banyak terima kasih.


BERLIBUR KE LOMBOK HAMPIR KETINGGALAN PESAWAT DAN KETINGGALAN KERETA

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Hai sobat traveler semuanya... Di tulisan kali ini saya akan membahas tentang liburan sa...