PayPal

Senin, 24 Juli 2017

KECEWA DENGAN SISTEM ONLINE BOOKING BUS PAHALA KENCANA DAN BIKIN KAPOK

Di tulisan kali ini, saya akan menceritakan pengalaman saya ketika memesan tiket bus Pahala Kencana secara  online.

Cerita Selingan

Selain sibuk dengan aktifitas kuliah, saya juga menjalankan usaha PPOB serta bekerja sebagai travel assistant untuk menambah penghasilan saya. Di musim mudik kemarin (tahun 2017), banyak orang yang menghubungi saya untuk dicarikan tiket murah. Terutama tiket kereta api. Bagi saya, berburu tiket di musim mudik lebaran itu dibaratkan nyari barang dengan edisi terbatas. Butuh gerak cepat dan tentunya koneksi internet yang cepat. Pelanggan saya kebanyakan adalah teman dan keluarga yang sudah mengenal saya.  Apabila yang memesan tiket adalah saudara saya, biasanya saya tidak mengenakan biaya alias gratis. Maklum, terkadang ikatan kekeluargaan itu kan lebih kental.

Di tulisan kali ini, saya akan menuliskan tentang pengalaman saya ketika memesan tiket Pahala Kencana yang memberikan kerugian bagi saya baik dari segi moril maupun materil. Bahkan, karena kesalahan yang dilakukan oleh PO Pahala Kencana, nama baik saya jadi tercoreng. Untuk lebih jelasnya, simak cerita berikut ini. MOHON DIBACA DARI AWAL SAMPAI AKHIR BIAR PAHAM.

CERITA UTAMA

Bebera hari sebelumnya, saya bertemu dengan adik kakak ipar saya secara tidak sengaja. Kemudian, saya diminta untuk memesankan tiket kereta api tambahan untuk adik kakak ipar saya. Karena, tiket kereta reguler yang dijual sudah habis.

Adik kakak ipar saya beserta suami dan kedua anaknya berencana untuk mudik ke kampung halaman suaminya di Bangkalan (Madura). Sudah 4 kali lebaran Idul Fitri mereka tidak mengunjungi keluarganya di sana dikarenakan selalu kehabisan tiket kereta api. Maklum saja, kalau naik bis kan biasanya menghabiskan waktu yang cukup lama.

14 Juni 2017

Tepat pukul 00:00, saya membuka website PT. KAI untuk memesankan tiket kereta api tambahan untuk adik kakak ipar saya dan keluarganya. Akan tetapi saya gagal mendapatkan tiketnya karena servernya selalu sibuk meskipun disediakan 4 tautan pada waktu itu. Karena saya gagal membantu untuk mendapatkan tiket kereta api untuk adik kakak ipar saya beserta suami dan kedua anaknya, akhirnya saya sarankan untuk membeli tiket bus saja. 

Kemudian, saya membuka beberapa website perusahaan bus ternama untuk mencari tiket dari Karawang menuju ke kota Bangkalan (Madura). Lalu saya juga membuka website pahalakencana.co.id. Dan akhirnya kami memutuskan untuk memesan tiket bus Pahala Kencana bagi kakak ipar saya dan keluarganya. Saya memlilih Pahala Kencana karena ada jadwal pemberangkatan bus dari Karawang menuju ke Bangkalan (Madura). Selain itu, adanya potongan harga bagi pengguna Doku Wallet yang membuat saya dan adik kakak ipar tergiur untuk memesankan tiket di website milik Pahala Kencana.

Saya memesankan tiket bus Pahala Kencana melalui website pahalakencana.co.id untuk adik kakak ipar saya beserta suami dan kedua anaknya pada tanggal 14 Juni 2017 . Kemudian, saya memesan dengan 3 kode Booking berbeda untuk memanfaatkan potongan harga dengan pembayaran Doku Wallet. Untuk kode booking pertama, saya dapat diskon Rp. 100.000, yang kedua Rp. 75.000, dan ketiga Rp. 25.000.

Saya memesankan tiket untuk adik kakak ipar saya beserta keluarganya dengan rute dari Karawang menuju ke kota Bangkalan (Madura) untuk keberangkatan pada tanggal 22 Juni 2017 dengan estimasi keberangkatan pukul 13:30 WIB dengan menggunakan bus Pahala Kencana dengan no rute 107 dan ID busnya 531. Kakak ipar saya dan keluarganya saya pesankan untuk duduk di deretan kursi 5A, 5B, 5C, dan 5D dengan kode booking URKHGY, 7UUW9Q, 2JJLV2.


Tiket Online Pahala Kencana (e-ticket)
Tiket Online Pahala Kencana (e-ticket)


22 Juni 2017

Hari ini merupakan hari H keberangkatan adik kakak ipar saya beserta keluarganya setelah 4 tahun mereka tidak mengunjungi keluarganya di kota Bangkalan (Madura). Saya sarankan juga kepada suami kakak ipar saya untuk pulang lebih awal dari tempat kerjanya agar tidak ketinggalan bus.

Intimidasi di Terminal Klari

Cerita Adik Kakak Ipar Saya

Setibanya di terminal Klari, adik kakak ipar saya beserta keluarganya menanyakan perihal bus yang akan membawa mereka kepada pihak agen di terminal Klari. Ketika menanyakan perihal tersebut, adik kakak ipar saya justru malah kena marah petugasnya. Dengan nada tinggi, dia menanyakan website pembelian tiketnya kepada adik kakak ipar saya. Bahkan, agen tersebut sempat menghubungi kantor pusatnya karena merasa dirugikan. Karena, dengan adanya sistem online ini, mereka juga (katanya) tidak akan mendapatkan komisi penjualan.

Cerita Saya

Saya mendapatkan SMS dari kakak ipar saya. Dia menanyakan perihal websitenya. Karena adik kakak ipar saya yang mudik mengirim pesan ke kakak ipar saya (yang menikah dengan kakak saya). Lalu saya telpon adik kakak ipar saya yang mudik dan memeberitahukan websitenya. Karena, sang agen nampaknya belum tahu sistem online booking ini dan menganggap tiketnya adalah palsu.

Cerita Kakak Ipar Saya

Meskipun telah memberitahukan kepada agen, adik kakak ipar saya masih mendapatkan initimidasi. Bahkan dia (agen) dengan nada yang agak tinggi bilang kalo bisnya udah penuh dari sananya. Otomatis hal tersebut membuat adik kakak ipar saya merasa tidak nyaman. Namun begitu, dia juga sempat konfirmasi kepada supir bus Pahala Kencana dengan tujuan arah Bandung dan beliau (supir) mengatakan itu memang tiket asli. 

Tidak Mendapatkan Kursi Meskipun Telah Memesan Kursi Online

Cerita Saya

Sore harinya, lalu saya putuskan untuk berhenti sejenak di terminal Klari untuk meluruskan masalah yang terjadi. Saya tiba di terminal Klari sekitar pukul 16:00 WIB (saat itu bis belum tersedia karena mungkin kejebak macet akibat arus mudik). Setelah mengetahui permasalahannya dari adik kakak ipar saya, akhirnya saya pergi meninggalkan terminal dan melanjutkan jalan-jalan sore ke salah satu mall di Karawang untuk mengantar keponakan saya.

Beberapa saat kemudian, HP saya kembali berdering. Ternyata ada pesan dari anak adik kakak ipar saya yang memberitahukan bahwa mereka telah naik bus Pahala Kencana menuju ke Bangkalan (Madura). Namun, mereka juga memberitahukan bahwa mereka juga hanya mendapatkan 2 tempat duduk (dari yang seharusnya 4). 2 tempat duduk itu juga salah satunya berada di depan (kursi kondektur).

Mendengar cerita itu, saya langsung kesal karena saya udah booking kursi 5A, 5B, 5C, dan 5D. Kemudian saya sarankan anak dari adik kakak ipar saya untuk mengajukan protes. Namun, menurut dia hal itu tidak digubris. Karena, tempat yang sudah seharusnya menjadi milik mereka kini sudah ditempati orang lain.

Setelah mengetahui hal tersebut, saya langsung menghubungi kantor pusat Pahala Kencana dengan harapan adik kakak ipar saya beserta keluarganya bisa duduk di kursi semula serta meminta pertanggung jawaban mereka. Namun, karena waktu itu sudah menunjukan pukul 17 lewat beberapa menit, maka saya tidak bisa menghubungi kantor pusat dikarenakan sudah tutup.

Karena perasaan yang tidak menentu, akhirnya saya yang sedang menemani keponakan saya terpaksa harus menyudahi acara jalan-jalan sore kami dan kembali ke rumah. Saya melihat keponakan saya juga agak kesal karena harus menyudahi acara jalan-jalan sore kami. Tapi, saya juga jujur agak sedikit gelisah atas apa yang terjadi. Saya juga jadi merasa gak enak sama adik kakak ipar saya dan suaminya. Saya juga takut nantinya hal ini akan menghilangkan kepercayaan mereka dan membuat mereka kecewa.

Setibanya di rumah, saya kemudian menghubungi kembali kantor Pahala Kencana namun tidak ada jawaban karena sudah tutup. Saya juga sempat melayangkan protes ke online chat Pahala Kencana di website pahalakencana.co.id. Namun, tanggapan mereka cuma bilang akan diselidiki. Saya juga sempat mengirimkan kritik dan saran melalui kolom komentar di website tersebut.

23 Juni 2017

Menghubungi Call Center Pahala Kencana

Pagi harinya, saya coba hubungi kembali PO Pahala Kencana. Kemudian ada yang mengangkat teleponnya yaitu seorang perempuan. Kemudian saya langsung komplain dan menjelaskan perihal masalah adik kakak ipar saya yang tidak mendapatkan kursi sesuai dengan nomor kursi. Kemudian dia menanyakan kode bookingnya. Karena saya lupa, saya tutup terlebih dahulu teleponnya untuk mencari kode bookingnya di e-mail saya.

Setelah mencatat kode bookingnya di kertas, kemudian saya mencoba menghubungi kembali call center PO Pahala Kencana. Sempat sekitar 3 atau 4 kali gak diangkat (gak tahu kenapa), tapi akhinya ada yang ngangkat juga teleponnya. Kemudian saya langsung jelaskan kembali dan kemudian memberikan informasi kode bookingnya.

Kemudian saya jelaskan juga bahwa gara-gara masalah tersebut saya yang kena dampaknya. Saya juga sempat dikomplain kakak ipar saya. Kemudian petugas call center menjelaskan bahwa sistem tersebut masih baru. Hello!!! Mau baru mau lama kek harusnya mereka udah antisipasi sebelumnya. Sungguh gak profesional. Kemudian, dia hanya mengatakan bahwa laporan tersebut akan disampaikan ke bagian operasional.

Terus, saya cecar dia dengan pertanyaan. "Bagaimana pertanggung jawabannya?". Padahal saya harap dengan kejadian seperti ini dia bisa menghubungi kondektur untuk memberikan hak-hak adik kakak ipar saya untuk memberikan tempat duduk sesuai dengan kursi yang tertera pada tiket mereka. Bahkan ketika saya menghubungi call center PO Pahala Kencana tersebut, adik kakak ipar saya masih di dalam bis dan belum sampai di Bangkalan (Madura). Kalupun tidak bisa mendapatkan tempat duduk, saya juga berharap ada kompensasi (ganti rugi) atas kesalahan yang mereka lakukan karena ini murni kesalahan mereka.

INGAT LHO!!! SAYA BUKAN MINTA KOMPENSASI (GANTI RUGI) BUAT SAYA, TAPI BUAT ADIK KAKAK IPAR SAYA. SAYA BERANI BERSUMPAH KALAU SAYA GAK PERNAH MINTA KOMPENSASI BUAT SAYA PRIBADI. KALAU KALIAN MENGERTI BISNIS, INILAH YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN PERUSAHAAN UNTUK MENGURANGI SENTIMEN NEGATIF PASAR.

Tapi yang terjadi kemudian dia langsung mengeluarkan kalimat jitu yang mengakhiri percakapan yang kurang lebih seperti ini "Iya, nanti kami akan coba laporkan ke pihak operasional. Terima kasih telah menghubungi kami. Selamat siang" (telepon langsung ditutup tanpa menanyakan apakah saya sudah menyelesaikan pertanyaan dan keluhan saya).

Please deh, saya juga pernah belajar tentang melayani customer di salah satu mata kuliah di kampus. Tapi seinget saya customer service tidak boleh menutup telepon secara sepihak tanpa memastikan terlebih dahulu apakah customer sudah selesai dengan pertanyaan atau keluhannya.

Sekarang gini, kalau kalian adalah salah satu penumpang yang menempati tempat duduk adik kakak ipar saya dan kemudian kalian disuruh pindah karena itu bukan tempat kalian, pasti kalian juga gak akan terima dan bakal menuntut ganti rugi dan pasti marah. Padahal kalian sudah booking jauh-jauh hari. Nah itu juga yang terjadi pada adik kakak ipar saya. Hanya saja, mereka masih sedikit bersabar.

Parahnya lagi, kondektur gak bisa berbuat apa-apa dan penumpang yang seharusnya tidak duduk di tempat tersebut malah menempatinya sampai ke akhir tujuan. Sekarang gini, bagaimana juga perasaan kalian kalau tempat duduk yang harusnya menjadi hak kalian malah diberikan kepada orang lain? Padahal kalian sudah pesan jauh-jauh hari dan seharusnya dapat prioritas tepat duduk.

Bayangkan saja, dari Karawang ke Bangkalan itu bukan hanya 1 atau 2 jam, melainkan belasan jam. Ditambah ini adalah musim mudik yang pasti macet. Kebayang dong capeknya gimana. Kalo misalkan diantara kalian ada yang bilang “maklumlah, ini kan arus mudik”. Please, ini emang arus mudik dan adik kakak ipar saya udah pesen lho dari awal. Masa iya dia harus kehilangan kursinya hanya karena booking online. Harusnya juga kan PO Pahala Kencana hanya menjual tiket sesuai kapasitas kursi. Ini kan katanya bus premium. Hadeuuhhhh..... Parah emang....!!!

Atas kejadian ini, saya sungguh merasa dipermalukan keluarga saya. Apalagi saya nampaknya kehilangan kepercayaan mereka. Padahal, ini semua murni karena kesalahan pihak Pahala Kencana. Ingat, kakak ipar saya memesan dengan cara online yang jelas sudah dibayar di awal. Justru dengan bayar di awal mereka jadi punya uang mengendap yang menguntungkan mereka juga. Tapi nyatanya, keuntungan hanya buat mereka semata tanpa memberikan hak-hak konsumen.

Untuk itu, saya mohon kepada pihak perusahaan Pahala Kencana untuk beritikad baik meminta maaf kepada keluarga kakak ipar saya dengan cara datang secara langsung ke rumahnya. Kalo gak bisa cukup kirimkan surat saja sebagai permohonan maaf. Saya meminta hal tersebut untuk meluruskan kesalahan yang terjadi dan supaya tidak ada kesalah pahaman diantara keluarga saya.

Karena saya udah mengecewakan adik kakak ipar saya, saya terpaksa memberikan kompensasi kepada mereka berupa refund sebesar Rp.350.000 sebagai bentuk pertanggung jawaban. Dan saya juga terpaksa berbohong kalau itu adalah uang yang diberikan oleh Pahala Kencana sebagai bentuk kompensasi dari perusahaan. Padahal, sebenarnya itu murni uang saya pribadi.

Saya sama sekali tidak berharap bahwa uang tersebut diganti sama Pahala Kencana. Saya sudah merelakan uang tersebut diberikan sebagai kompensasi kepada adik kakak ipar saya sebagai bentuk kompensasi bagi mereka. Ya hitung-hitung mengurangi sedikit kekecewaan mereka. Bagi kalian yang ngerti bisnis tentu saja kalian pasti paham dengan apa yang telah saya lakukan. Karena Pahala Kencana sendiri seolah lepas tangan begitu saja dan saya yang kena dampak terburuknya.

Kesimpulan :


  1. Saya mengalami kerugian baik moril maupun materil.
  2. Kakak ipar saya beserta keluarganya tidak mendapatkan tempat duduk sesuai nomor, bahkan hanya 2 orang dari mereka (4 orang) yang mendapatkan tempat duduk, itupun salah satunya di kursi kondektur.
  3. Pembagian untuk agen bagi pemesanan online tiket bus Pahala Kencana tidak jelas.
  4. Pemesan online tiket Bus Pahala kencana kacau balau. Bahkan tidak ada konfirmasi sama sekali dari bagian operasional terhadap kondektur mengenai kursi yang dipesan secara online.
  5. Saya membelikan tiket untuk adik kakak ipar saya murni tanpa ada unsur bisnis meskipun saya punya usaha jual beli tiket. Karena, pembeliannya sendiri memang dilakukan online langsung ke website resmi milik Pahala Kencana di http://www.pahalakencana.co.id dan pembayarannya pun menggunakan Doku Wallet yang sudah terverifikasi.
  6. Saya tidak mengambil keuntungan sepeserpun, tapi justru saya yang mengalami kerugian.
  7. Saya kehilangan kepercayaan dari orang lain terutama adik dari kakak ipar saya.
  8. Saya tidak akan pernah merekomendasikan booking online Pahala Kencara sama sekali kepada teman atau kerabat saya karena saya sudah cukup dikecewakan dan dipermalukan.
  9. SAYA SAMA SEKALI TIDAK MEMINTA GANTI RUGI ATAS KERUGIAN YANG SAYA ALAMI TERMASUK UANG YANG SAYA TELAH KELUARKAN, SAYA HANYA MINTA PIHAK PAHALA KENCANA MEMINTA MAAF SECARA PRIBADI.
Maka dari itu, perbaikilah sistem kalian wahai pemilik perusahaan PO Pahala Kencana. Masa iya sih perusahaan segede dan seterkenal itu malah malu-maluin. Yang ada konsumen malah pada lari entar.

Wassalam........

Rabu, 28 Juni 2017

WISATA 7 KERETA

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Berawal dari adanya promo tiket kereta api yang dipublikasikan oleh PT KAI (Kereta Api Indonesia), saya langsung deh buru-buru cek ketersediaanya di website resmi PT KAI. Setelah cek jadwal dan ketersediaan, langsung deh saya merencanakan perjalanan saya. Kali ini sedikit konyol, 7 kereta sekaligus saya pesannya. Tapi gak semuanya promo juga sih.

Sabtu, 19 Juli 2014

Kereta Pertama : Harina
Kelas : Bisnis
Subclass : Y
Harga : Rp. 49.000,- (promo)


Tiket Harina


Selepas makan sahur, saya langsung bergegas menuju ke stasiun kereta api Cikampek. Saya tiba di sana sekitar pukul 02:30 WIB. Kereta pertama yang saya naiki adalah kereta api Harina menuju ke Bandung. Harga tiketnya cuma Rp. 49.000 untuk kelas bisnis (promo). Sayangnya untuk kelas eksekutif, promonya sendiri sudah habis terjual.

Keretanya sendiri sedikit mengalami keterlambatan tiba di Cikampek. Sehingga, kereta juga mengalami keterlambatan berangkat dari Cikampek menuju ke Bandung. Saya tiba di Bandung sekitar pukul 06:00 WIB. Padahal saya harusnya tiba sekitar pukul 04:50 WIB. Untungnya saya masih punya waktu sekitar 1 jam untuk naik ke kereta api Lodaya pagi. Sesampainya di Bandung, saya langsung naik ke kereta Lodaya Pagi.

Kereta Kedua : Lodaya Pagi
Kelas : Eksekutif
Subclass : I
Harga : Rp. 220.000,- (tarif normal)


Tiket Lodaya Pagi


Saya duduk di gerbong 1 dengan nomor kursi 8A. Namun, kursi tersebut malah diisi oleh wisatawan asing. Saya pun diminta untuk pindah kursi oleh guidenya dengan alasan bikin impress tuh wisatawan. Ach.... Padahal saya dah bela-belain dapat tuh kursi. Pemandangan di bagian itu pun jauh lebih baik dan indah. Ya udahlah, toh wisatawan asing tersebut juga jarang ke Indonesia.

Di sepanjang perjalanan, saya disuguhi pemandangan jalur selatan yang begitu indah. Pegunungan yang indah serta melewati jembatan-jembatan tinggi terutama jembatan Cirahong yang begitu terkenal di Tasikmalaya. Jembatan ini begitu unik. Di bagian atasnya adalah jalan kereta api, namun di bawahnya adalah jalanan mobil. Tepat pukul 15:30 WIB, tibalah saya di stasiun Yogyakarta.

Kereta Ketiga : Argo Dwipangga
Kelas : Eksekutif
Subclass : A
Harga : Rp. 50.000,- (tiket Go Show)


Tiket Argo Dwipangga


Sesampainya di Yogyakarta, saya langsung membeli tiket terusan ke Solo. Saya sendiri memilih tiket kereta Argo Dwipangga. You know what? Harga tiketnya super duper murah dari harga aslinya. Cuma Rp.50.000 untuk kelas eksekutif. Hanya saja nama kita gak tercetak di tiket. Yang ada hanya tulisan "PNP GO SHOW" atau "Penumpang Go Show". Saya sendiri naik Argo Dwipangga yang kabinnya mirip kayak pesawat terbang.

Sepanjang perjalanan dari Yogyakarta ke Solo saya disuguhi oleh pemandangan yang sangat indah. Banyak sekali hamparan pegunungan yang terhampar luasnya. Tak lama kemudian, tibalah saya di stasiun Solo Balapan. Saya langsung keluar stasiun dan berjalan kaki sambil memeriksa tempat menarik yang ada di sekitar stasiun.

Sesampainya di Solo

Sesampainya di Solo, saya kemudian mengunjungi Monumen Banjarsari yang jaraknya tidak terlalu jauh dari stasiun dengan berjalan kaki sambil melewati pasar Elpabes Surakarta. Monumennya sedikit kurang terawat. Namun banyak juga warga sekitar yang menghabiskan waktu di sini pada sore hari. Setelah mengunjungi Monumen Banjarsari, saya putuskan untuk pergi ke alun-alun Selatan Keraton Surakarta.

Jujur saja, saya sedikit mengalami kesulitan dalam hal menemukan transportasi di situ. Bahkan taksi juga jarang lewat. Terus saya tanya aja ke seorang ibu dan beliau menyarankan saya naik becak. Akihrnya dia bantuin saya untuk mencari becak dan melakukan tawar menawar harga dengan tukang becaknya. kemudian mereka setuju dengan tarif Rp. 12.000,-. Jujur aja saya juga gak tahu berapa tarif sebenernya. Dan makasih banget buat ibu yang telah membantu saya mencarikan becak.

Well, ternyata perjalanannya cukup jauh juga. Dan dengan jarak sejauh itu dari monumen Banjarsari ke alun-alun selatan Keraton Solo tarifnya cuma Rp. 12.000,-. Dengan jarak segitu kalo di Karawang udah pasti harganya lebih dari itu. Jujur aja, saya juga jadi gak enak hati. Akhirnya, saya bayar saja Rp. 20.000,-.

Karena Keraton Surakarta sudah tutup pada sore hari, saya hanya bisa mengunjungi alun-alun selatan Keraton saja. Tapi jangan kuatir, di sini juga ramai kok pada malam hari. Banyak sekali warga yang datang ke sini pada malam hari. Bahkan, di sini juga tersedia jajanan tradisional yang menggugah selera. Ada juga penyewaan sepeda yang dihiasi oleh lampu untuk sekedar berkeliling di sini. Tenang, harganya gak terlalu mahal kok!

Setelah mengunjungi alun-alun selatan Keraton Surakarta, Saya langsung kembali menuju ke stasiun Solo Balapan dengan menggunakan becak kembali. Sesampainya di stasiun, saya langsung menunggu kereta Gajayana menuju ke stasiun Tugu Yogyakarta.

Kereta Keempat  : Gajayana 
Kelas : Eksekutif
Subclass : Y
Harga : Rp.99.000 (promo)

Tiket Gajayana


Setelah menunggu cukup lama dan keretanya terlambat sekitar 20 menitan, akhirnya kereta Gajayana pun tiba dan saya langsung naik. Gajayana sendiri kabinnya mirip kayak kabin pesawat, keretanya pun cukup bersih dan terawat. Maklumlah ini kereta terkenal dengan kabinnya yang mirip kayak pesawat.

Tak lama kemudian tibalah saya di stasiun Tugu Yogyakarta. Di sana saya langsung menuju ke jalan Malioboro untuk berbelanja oleh-oleh. Setelah selesai belanja, saya langsung  kembali ke stasiun Tugu Yogyakarta dan melanjutkan perjalanan menuju kota Tasikmalaya dengan menggunakan kereta api Malabar.

Kereta Kelima : Malabar
Kelas : Eksekutif
Subclass : X
Harga : Rp. 99.000,- (promo)


Tiket Malabar


Saya cukup lama menunggu di stasiun Tugu Yogyakarta karena kereta Malabar sendiri mengalami keterlambatan lebih setengah jam. Kemudian setelah keretanya tiba saya langsung naik ke atas kereta dan melanjutkan perjalanan menuju kota Tasikmalaya sekaligus untuk menjemput keponakan saya yang bernama Ika di sana. sebenarnya tujuan akhir tiket Malabar saya adalah Bandung. Akan tetapi saya ingin menjelajah singkat Kota Bandung terlebih dahulu bersama keponakan saya.

Sesampainya di kota Tasikmalaya, saya langsung menunggu kedatangan keponakan saya di stasiun Tasikmalaya. Kebetulan kami berdua janjian untuk pulang bersama dengan naik kereta api menuju ke kota Karawang. Tak lama keponakan saya pun tiba di stasiun.

Ada kejadian konyol ketika saya pergi ke toilet untuk buang air kecil. Kuncinya macet. Saya pun panik bukan kepalang karena saya mendengar suara kereta api Turangga yang tiba di stasiun Tasikmalaya. Tapi untunglah saya bisa membuka pintu toilet yang macet dan saya pun berhasil keluar. Alhamdulillah....

20 Juli 2014

Kereta Keenam : Turangga
kelas : Eksekutif
Subclass : X
Harga : Rp. 99.000,- (promo)


Tiket Turangga



Setelah saya keluar dari toilet, saya dan keponakan saya menaiki kereta api Turangga menuju ke kota Bandung. Kami berdua tiba di kota Bandung sekitar pukul 07:00 WIB. Karena kereta lanjutan yang menuju ke Karawang (stasiun Cikampek)  berangkat sekitar pukul 09:50 WIB, kami putuskan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu ke Gedung Sate dan Museum Geologi Bandung.

Di Bandung

Sesampainya di Bandung, kami berdua langsung pergi ke Gedung Sate berfoto di sekitar Gedung Sate. Sayangnya gate Gedung Sate tidak dibuka untuk umum. Padahal, di dalamnya ada monumen dan taman yang cantik. Akhirnya kami berdua hanya berfoto di bagian luarnya saja. Selesai berfoto, kami berdua langsung pergi ke Museum Geologi yang jaraknya tidak jauh dari gedung sate.

Museum Geologi memiliki koleksi yang cukup lengkap, hanya saja tempatnya terlalu gelap dan terkesan menyeramkan. Meskipun begitu, di sini banyak sekali pengetahuan yang bisa kita ambil. Mulai dari barang tambang, sampai proses terjadinya bencana alam. Selesai mengunjungi Museum Geologi, kami langsung kembali ke stasiun Bandung.

Kereta Ketujuh : Ciremai Ekspres
Kelas : Eksekutif
Subclass : H
Harga : Rp. 65.000,- (normal)

Tiket Cirema Ekspres


Saat itu, kami hampir saja ketinggalan kereta. Untungnya, kami tiba sebelum kereta mulai diberangkatkan. Kami pun berangkat dari stasiun Bandung menuju ke stasiun Cikampek sekitar pukul 10 lebih. Setibanya di stasiun Cikampek, kami pun langsung pulang menuju rumah masing-masing.

Well, saya sangat senang sekali bisa berwisata 7 kereta sekaligus. Karena saya bisa mencoba berbagai macam gerbong kereta sesuai dengan kelas dan tipenya masing-masing. Meskipun mungkin saya terlihat konyol, tapi saya sangat menikmati perjalanan yang telah saya lakukan.

Sedikit tips dari saya, kalau kalian memang ingin melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan, sebaiknya kalian juga memperkirakan waktu untuk melakukan transit. Karena, meskipun ada keterangan jadwal keberangkatan, kereta api sering sekali mengalami keterlambatan tiba dan keberangkatan.

Sekian dulu cerita yang bisa saya sampaikan. Wassalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.

Jumat, 14 November 2014

Serunya Berlibur di Jogjakarta

Hai sob, kali ini saya akan menceritakan pengalaman berlibur saya selama 2 hari di Yogyakarta. Semoga sobat semua tertarik untuk membacanya!!!

Hari ke-1

Hari ini sepulang kerja shift malam, saya langsung meluncur ke mall Karawang untuk membeli perlengkapan saya, karena hari ini saya akan pergi berlibur ke Yogyakarta bersama rekan kerja saya. Setelah selesai shopping, saya langsung pulang dan packing perlengkapan saya.

Setelah selesai packing, saya langsung menuju meeting point di tempat perusahaan saya bekerja. Saya ke meeting point dengan diantar tukang ojek di sekitar rumah. Sumpah, ngemudinya lelet banget apalagi ditambah nelpon saat mengemudi. Sumpah bikin deg-degan ditambah yang di belakang juga klaksonin beberapa kali gara-gara jalannya di tengah. Saya tiba di lokasi meeting point terlambat sekitar 30 menit. What a mess!!!

Sesampainya di sana saya langsung jadi bulan-bulanan rekan kerja saya. Maklumlah, mereka khawatir tiba di stasiun Pasar Senen. Akhirnya saya terpaksa harus ngejelasin sama mereka perihal yang terjadi. Well... Sebagian sih bilang cuma alasan doang!!!! Tapi, It's OK lah!!! Tak lama bis kami pun berangkat menuju stasiun Pasar Senen. Perjalanannya sendiri memakan waktu sekitar 1,5 jam dari Karawang.
Ngeksis diantara 2 kereta di Stasiun Pasar Senen

Sesampainya di stasiun Pasar Senen, kami langsung menunggu kereta kami. Kami berangkat ke Jogja dengan menggunakan kereta Senja Utama Yogyakarta (Kelas bisns). Keretanya berangkat sekitar pukul 18.45 WIB dengan melewati jalur bagian utara.

Hari ke-2

Setelah menempuh perjalanan sekitar 7 jam, tibalah kami di stasiun Yogyakarta. Sesampainya di sana langsung naik ke bis dan menuju ke restaurant Orang Utan. Di sepanjang jalan, guide kami bercerita mengenai sejarah kota Yogyakarta. Serasa dengerin dongeng sambil terkantuk-kantuk. Tapi seru juga ceritanya.

Tak lama kemudian, sampailah kami di restaurant Orang Utan, di sana kami langsung bersih-bersih dan mandi. Di restaurant ini terdapat puluhan kamar mandi yang biasa digunakan oleh para wisatawan. Selesai mandi, kami langsung sarapan di restaurant Orang Utan.
Orang Utan Restaurant

selesai mandi, kami langsung melanjutkan perjalanan kami menuju ke Candi Borobudur di kota Magelang. Ingat ya, Candi Borobudur itu adanya di kota Magelang, bukan Yogyakarta. Hanya saja paket wisata Yogyakarta yang ditawarkan beberapa travel agent beserta kunjungan ke Taman Wisata Candi Borobudur.
Tiba di Candi Borobudur

Di sana , kami langsung diceritakan mengenai Candi Borobudur oleh guide kami. Candinya cukup luas. Namun saking banyaknya pengunjung, ruang gerak kami menjadi terbatas. Ada mitos yang mengatakan kalau kita bisa menyentuh stupa Candi Borobudur kita bisa mendapatkan jodoh. Akan tetapi hal itu sekarang dilarang dikarenakan adanya kerusakan stupa Candi akibat sentuhan oleh para pengunjung.

selesai menunjungi Candi Borobudur, perjalanan kami lanjutkan menuju ke kawasan Gunung Merapi. Saat mengunjungi gunung Merapi, kami diperintahkan untuk naik mobil jenis offroad karena hanya kendaraan jenis offroad lah yang mampu melewati jalanan terjal penuh batu dan pasir di sekitar kawasan Merapi.
Offroad Ria di Kawasan Merapi



Saat menunjungi kawasan Merapi, saya sarankan anda untuk mengenakan masker karena kawasan ini sangat berdebu. Anda juga saya sarankan untuk menggunakan kacamata supaya mata anda terlindung dari serpihan  abu vulkanik. Bentuk dari abu vulkanik sedikit lebih tajam dibandingkan debu biasa. Hal ini juga beresiko merusak mata anda.
Jangan lupa pakai masker ya!!!

Kawasan ini sangat terjal, di samping kiri dan kanan anda akan melihat jurang-jurang yang sedikit membuat saya takut. Meskipun begitu saya sangat menikmati pemandangan di sekitar kawasan merapi yang begitu indah. Bukan cuma itu anda juga dapat melihat rumah-rumah yang terkena dampak letusan gunung Merapi yang sudah rusak.

Saat mengunjungi kawasan Merapi, kami sempat singgah di beberapa tempat. Tempat pertama yang kami singgahi adalah Museum Merapi. Museum ini dibuat secara swadaya oleh masyarakat. Museum ini adalah rumah yang terkena dampak letusan gunung Merapi. Di sini terdapat beberapa benda yang terkena dahsyatnya awan panas Merapi. Bahkan sebagian benda ditemukan dalam kedaan meleleh.
Koleksi di Museum Merapi

Setelah mengunjungi Museum merapi, perjalanan kami lanjutkan menuju ke bunker tempat ditemukannya 2 jenazah relawan Palem (Paguyuban Lereng Merapi) yang tidak sempat menyelamatkan diri dari letusan gunung Merapi. Tidak ada penerangan di bunker ini, satu-satunya penerangan adalah dengan menggunakan lampu senter yang disediakan di pintu masuk bunker.
Foto di depan Bunker

Bunker-nya sendiri hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah Alm. Mbah Maridjan (juru kunci Merapi yang meninggal karena letusan Gunung Merapi). Sempat kecewa juga sih karena gak bisa naik ke atas lagi. Tapi tak apalah, lokasi di sekitar lereng juga cukup bagus dan indah.

Setelah mengunjungi bunker Merapi, perjalanan kami lanjutkan menuju ke batu Alien (masih di kawasan Merapi). Batu ini memiliki gerusan alami yang menyerupai wajah Alien. Bahkan kita juga bisa melihat jelas lekukan bentuk antara bola mata dan mulutnya. Kalau kita gak bisa melihat jelas, cukup lihat dulu fotonya lalu cocokkan dengan batunya. Well, inilah akhir dari Merapi Tour, saatnya kembali ke titik awal dan melanjutkan perjalanan kembali.

Setelah selesai Merapi tour, kami langsung menuju ke restaurant Moro Lejar untuk makan siang. Salah satu bis dari rombongan kami sempat mogok, hingga akhirnya harus dijemput. Meskipun begitu, masih banyak bangku yang kosong yang tersedia di bis kami. Setelah makan siang selesai, kami pun langsung menuju ke hotel Horison Riss.
Moro Lejar Restaurant

Sesampainya di sana, kami langsung dibagikan kunci kamar kami. Saya mendapat kamar nomor 205 di lantai 2. kamarnya cukup bersih, hanya saja tidak ada bathtub. Saya pun langsung mandi dan istirahat sejenak sambil menunggu perjalanan berikutnya untuk makan malam.
Room 205

Selesai sholat maghrib, kami langsung brangkat kembali dengan menggunakan bis untuk makan malam di restaurant lokal (agak lupa nama tempatnya). Kami juga sempat melewati benteng V yang sangat terkenal. Jarak dari hotel ke restaurant lokal agak cukup jauh. Setibanya di restaurant tersebut kami langsung makan malam. Bukan cuma itu, di sana juga diselenggarakan game dengan hadiah menari. Bahkan rekan satu tim ada yang mendapatkan voucehr hotel bintang 3 dan 5.

Selesai makan malam, kami pun langsung kembali ke hotel. Setibanya di hotel, saya langsung bergegas menuju ke kawasan Malioboro dengan berjalan kaki. Jaraknya sendiri tidak terlalu jauh dari hotel. Namun begitu, ada sebagian yang memilih istirahat di hotel karena besok pun masih ada jadwal acara ke Malioboro.

Saya juga iseng dengan teman saya untuk mengunjungi "Pasar Kembang". Di kawasan ini terdapat berbagai macam club mini lengkap dengan pelayan perempuan yang menawarkan paket "plus". Ini juga pertama kalinya saya ke tempat kayak gitu, itu juga karena diajak teman. Tapi jangan khawatir, saya hanya numpang lewat doang! ;).

Yang saya suka, perempuan di sana tidak terlalu agresif dan bahkan saya tidak diganggu sama sekali ketika lewat. Apabila masuk ke kawasan ini, anda juga diminta sumbangan sukarela. Meskipun begitu, tidak apa-apa jika anda tidak memberi sumbangan. Setelah itu, kami pun langsung kembali ke hotel.


Hari ke-3

Tepat pukul 7 pagi, kami semua berkumpul untuk sarapan pagi di hotel. Banyak sekali variant makanan di sini, mulai. dari western sampai dengan tradisonal. Setelah selesai sarapan, kami langsung packing dan melakukan check-out sekitar pukul 9 pagi untuk melanjutkan kembali tour kami.

Tujuan selanjutnya adalah keraton Yogyakarta. Sesampainya di sana, kami langsung diajak berkeliling oleh guide kami. Banyak sekali peninggalan sejarah di sini. Namun begitu, beberapa tempat terlihat seperti menyeramkan dengan cahaya lampu yang minim. Saya pun agak ngeri ke tempat tersebut. Selain itu, di sini juga kita bisa melihat pertunjukan seni tradisional khas Jawa. Setelah mengunjungi keraton Yogyakarta, perjalanan dilanjutkan menuju ke restaurant lokal untuk makan siang.
Foto Bareng Abdi Dalem Keraton Yogyakarta

Selesai makan siang, perjalanan dilanjutkan kembali menuju ke kawasan Malioboro untuk belanja oleh-oleh. Harga yang ditawarkan di sini cukup bervarisasi, mulai dari yang murah sampai yang mahal. Tapi kebanyakan harganya dibanderol dengan harga murah dan bahkan masih bisa ditawar. Selesai belanja, kami pun langsung menuju stasiun Lempuyangan untuk kembali menuju ke Karawang. Saya sendiri memilih naik pesawat bersama seorang teman saya.

Setelah drop-off rombongan lain di stasiun, saya dan teman saya langsung menuju ke bandara dengan menggunakan bus rombongan. Sesampainya di sana, saya langsung pergi menuju ke Blue Sky Executive Lounge (lounge favorit saya). Bahkan, di sini kita gak usah repot-repot check-in dan daftarin bagasi karena akan di-handle oleh petugas lounge-nya.
Adisutjipto International Airport

Sempet kesel juga sih karena pesawat kami delay lebih dari 1 jam. Untung saja saya tidak ketinggalan bis DAMRI dari bandara Soekarno-Hatta menuju ke Purwakarta (turun di rest area KM 57 Karawang). Meskipun begitu, saya sangat senang bisa pulang naik pesawat karena saya sangat suka terbang. Akhirnya, saya tiba di rumah sekitar pukul 01:30 selasa dini hari.

Sekian dulu cerita dari saya ya sob, terima kasih bagi yang sudah membaca dari awal sampai akhir dan semoga bermanfaat. Terima kasih.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Menikmati Promo Fare 55 Ribu Citilink

Hai sob!!! Kali ini saya mau menceritakan pengalaman saya setelah mendapatkan tiket promo Rp. 55.000 dari Citilink. Semoga bermanfaat.

13 September 2014

Cerita ini berawal saat saya membuka website milik maskapai milik Citilink. Di situ terlihat ada gambar mengenai promo 55 Ribu Citilink. Promonya bisa muncul tiba-tiba antara pukul 19:00 WIB sampai pukul 03.00 WIB. Iseng-iseng saya buka websitenya pas malam minggu. Kebetulan keesokan harinya saya libur kerja. Jagi gak masalah meskipun harus begadang semalaman.

Saya sendiri waktu itu belum pernah naik pesawat. Jadinya saya iseng deh buat booking. Lagian harganya juga cuma Rp. 55.000. Saya juga gak tahu mau terbang ke mana. pokoknya, kalo promonya muncul, saya mau booking aja. Kan lumayan dapat harga tiketnya yang murah. Sebelum pukul 09.00 WIB saya sudah duduk di depan komputer jinjing saya. Tapi tiba-tiba, saya malah disuruh ke rumah kakak ke-3 saya oleh dia yang jaraknya hanya beberapa puluh meter dari rumah saya.

Kaki langsung saya langkahkan ke rumah kakak saya. Setibanya di sana, saya malah disuruh keponakan saya yang waktu itu masih berusia 3 tahun (namanya Satria, cuman saya suka panggil Kevin karena saya suka nama itu) untuk menginap di rumah saya karena kakak saya harus mengurus anaknya yang masih bayi (namanya Aisyah). Kebetulan kakak saya juga sedang mempersiapkan acara 40 hari lahirnya keponakan saya yang masih bayi.  Ya udah deh, saya bawa keponakan saya menginap di rumah saya.

Setibanya di rumah saya dia langsung main sama keponakan saya dari kakak ke-5 saya (namanya Najma). Kebetulan dia juga lagi nginep di rumah saya. Saya sama Kevin udah deket banget. Dari kecil saya yang urus dia kalo mamanya lagi pergi. Boleh dibilang udah kayak kakak ama adik lah. Gak lama si Kevin matanya udah mulai ngantuk. Setelah dia tidur, lanjut deh nyari tiket promo Citilink. Pantengin dari jam 09:00 WIB tapi kagak muncul-muncul, yang ada malah ketiduran.

14 September 2013

Pas tengah malam, keponakan saya terbangun dan dia minta pulang ke rumahnya. Pas lihat jam tangan, udah pukul 5 pagi. Langsung deh saya anterin dia pulang ke rumahnya. Setelah itu, saya pulang lagi ke rumah saya. Pas lihat jam dinding, ternyata jam menunjukan pukul 00:30. Hahaha.... kocak banget!!!! Ternyata saya salah lihat jam. Ngelihat jam tangan saya malah kebalik dan gak nyadar saking ngantuknya saya.

So, berarti masih ada kesempatan buat nyari promonya. Akhirnya saya buka lagi notebook saya dan coba nyari lagi. Alhamdulillah banget, saya nemu promo 55 ribu tujuan Jakarta-Surabaya pada tanggal 19 April 2014 dengan waktu keberangkatan pukul 21:40 WIB dan tiba pukul 22:55 WIB. Langsung deh saya nyari tiket pulangnya juga (Surabaya-Jakarta). Tapi saya hanya nemu di tanggal 20:00 WIB dengan waktu  penerbangan pukul 05:55 dan tiba pukul 07:15 WIB. Tapi gak apa-apa, yang penting saya bisa naik pesawat. Maklum lah, waktu itu saya belum pernah naik pesawat sama sekali. Hehe...

Setelah saya nemu tiket promonya, akhirnya saya booking tuh tiket. Channel pembayaran tiket Citilink pun cukup banyak. Bisa dibayar di Alfamart, Lawson, Alfamidi, ATM, dan lain-lain. Tapi saya putuskan untuk bayar di Alfamart karena jaraknya lebih dekat. Sialnya lagi, Alfamart yang terdekat dengan rumah saya gak buka 24 jam, terpaksa saya nyari yang buka 24 jam.

Setelah lama nyari, akhirnya saya nemu Alfamart yang buka 24 jam, jaraknya sekitar 20 menit dari rumah saya. Parahnya lagi, saya salah kode pembayaran yang satunya lagi. Udah gitu saya lupa bawa HP buat nelpon call center-nya. Akhirnya saya terpaksa bolak-balik. Setelah melakukan pembayaran, akhirnya saya pulang dan tidur.

19 April 2014

Setelah menunggu berbulan-bulan, akhirnya hari ini saya berangkat menuju ke Surabaya dengan menggunakan pesawat Citilink. Setelah menyiapkan itinerari saya, akhirnya saya bergegas menuju ke bandara Internasional Soekarno-Hatta. Saya berangkat ke sana dengan menggunakan DAMRI dari terminal Klari. Ongkosnya sekitar Rp. 55.000.

Saya berangkat dari Klari sekitar pukul 15:00 WIB dan tiba sekitar pukul 17:30 WIB di terminal 1C bandara Soekarno-Hatta. Setelah tiba, saya langsung melakukan check-in dan mendaftarkan bagasi saya. Setelah proses check-in selesai, saya langsung menuju ke ruang tunggu. Karena penerbangan saya masih lama, saya putuskan untuk pergi ke lounge yang berada di lantai 1.
Blue Sky Executive Lounge

Lounge yang tersedia di terminal 1C adalah Blue Sky Executive Lounge. Kebetulan saya juga pernah nyoba Blue Sky Executive Lounge sebelumnya di bandara Adisutjipto Jogjakarta. Lounge ini ternyata lebih mewah daripada yang di Jogjakarta. Bahkan toilet-nya pun bersih dan terkesan mewah. Sayangnya, waktu itu pintu belakangnya belum dibuka. Jadi, saya harus tetap ikut antri di gerbang keberangkatan bersama penumpang lainnya. Alasannya, karena ada perbedaan management antara Angkasa Pura 1 dan 2.

Pas masuk ke lounge, ternyata hanya ada 2 penumpang di sana. Enak juga sih, soalnya saya bisa leluasa bergerak. Namun menjelang malam, ada rombongan jamaah umroh yang menikmati lounge juga. Kaca bagian belakang lounge transparant sehingga kita bisa melihat pesawat yang taxiing maupun yang take-off dan landing.

Menu makanan yang ditawarkan di sini cukup bervariasi. Mulai dari yang berat hingga yang ringan. Bahkan ada juga rujak dengan bumbu petisnya yang berasa banget. Di sini tersedia juga TV dengan saluran International. Bahkan, jika kita ingin internetan, di sini juga tersedia komputer yang terhubung dengan jaringan internet. Jadi kita gak perlu bawa gadget dan nyari sinyal Wi-Fi lagi.

Tak lama kemudian pesawat Citilink yang saya naiki pun mulai boarding. Saya langsung bergegas menuju ke gerbang keberangkatan. Di sana sudah banyak penumpang yang antri masuk ke pesawat. Asyiknya lagi, di sini pake aviobridge. Meskipun di sini hujan, gak perlu khawatir kehujanan. Ini juga pertama kalinya saya pake aviobridge *norak :)*.

Setelah masuk ke pesawat, saya langung mencari tempat duduk saya. Saya duduk di seat nomor 14A (window seat). Ingat!!! Hanya orang dengan kualifikasi tertentu yang bisa duduk di sini.Karena ini penerbangan terakhir dan paling malam, penumpangnya tidak terlalu penuh. Bahkan, saya hanya duduk berdua dengan seorang perempuan (duduk di 14C).
Citilink Seat





Perjalanan dai Jakarta menuju Surabaya ditempuh dalam waktu kurang lebig 1 jam dan 15 menit. Serunya lagi, pilot sempat menyapa kami dari cockpit dan memberikan informasi ketinggian dan kecepatan pesawat. Pesawatnya sendiri terbang di atas ketinggian lebih dari 30.000 kaki di atas permukaan laut dengan kecepatan 600 KM/jam (entah hitungan knot-nya berapa).

Setelah terbang lebih dari 1 jam, tibalah kami di Bandara Internasional Juanda Surabaya. Karena terminal kedatangannya bekas terminal kedatangan Internasional, rata-rata naik dan turunnya penumpang menggunakan aviobridge. Bahkan bandaranya pun cukup bersih dan luas. Bahkan bandara ini juga pernah mendapat predikat bandara terbaik dan bandara dengan toilet terbersih.

Fasilitas di bandara ini cukup lengkap, mulai dari toko souvenir sampai hotel pun ada. Jadi, kalo anda adalah penumpang transit atau mungkin terbang di pagi hari, anda tidak perlu repot mencari penginapan di sekitar bandara karena hotelnya berada di bandara sendiri. Berbagai macam restaurant pun tersedia di sini. Mulai dari yang menyajikan makanan lokal maupun International.

Setibanya di bandara Juanda, saya langsung berkeliling di sekitar bandara dan tidur di bandara karena keesokan paginya saya harus pulang lagi ke Karawang. Sempet juga sih ditanya scurity mengenai penerbangan saya. Lalu saya bilang kalo saya harus terbang di pagi hari. Tapi dia bilang "Ya, mendingan tidur di sini aja daripada ketinggalan pesawat".

Bukan hanya saya saja yang tidur di bandara, banyak kok yang tidur di bandara demi mengejar penerbangan pagi. Bahkan, ada seorang ibu dengan anaknya yang usianya sekitar 3 tahunan tidur di bandara juga. Saya tidur di kursi bandara di terminal 1. Menjelang pagi hari, agak crowded juga karena ada rombongan anak-anak yang kebetulan berangkat tour di pagi hari.

Pagi harinya saya langsung mencuci muka dan gosok gigi di toilet bandara. Mau mandi tapi ribet juga. Akhirnya saya gak mandi *hehe* tapi tetep wangi kok! Lagian pake parfum juga. Sialnya lagi, di toiletnya gak ada tempat menyimpan barang seperti di bandara Soekarno-Hatta. Terpaksa deh koper saya digantung di pintu karena takut kena basah dankotoran toilet.

Sekitar pukul 03.00 WIB, bandara pun mulai dibuka. Saya langsung masuk ke dalam dan melakukan check-in. Setelah proses check-in selesai, saya langsung menuju ke terminal keberangkatan. Di sana saya juga sempat membeli makanan khas Surabaya untuk dijadikan sebagai buah tangan.

Tak lama kemudian, pesawat pun mulai proses boarding. Saya melewati aviobridge untuk bisa masuk ke dalam pesawat. Saya langsung duduk di tempat duduk saya di no 14A. Pagi itu penerbangan agak sedikit penuh. Namun masih ada beberapa bangku yang kosong. Tak lama, pesawat pun mulai menuju landasan pacu untuk melakukan proses take-off.
Morning View at Juanda Int'l Airport

Sesaat setelah take-off, saya melihat pemandangan yang begitu indah. Pemandangannya berupa hamparan sawah dan perbukitan. Cuaca saat itu dalam keadaan cerah sehingga sunrise pun dapat terlihat jelas. Namun penerbangan waktu itu hampir begitu hening. Maklum lah, masih pagi, banyak juga penumpang yang masih dalam keadaan ngantuk karena harus mengejar penerbangan pagi. Di pesawat, saya juga sempat memesan makanan omelet sebagai menu sarapan saya serta 1 botol air mineral.

Setelah terbang kurang dari 1,5 jam, tibalah saya di bandara Internasional Soekarno-Hatta. Kemudian, saya langsung turun dan menuju tempat pengambilan bagasi di terminal 1C. Setelah itu, saya langsung keluar dan menuju tempat pemberhentian bis DAMRI. Kali ini saya naik bis DAMRI dengan tujuan Purwakarta dan minta turun di rest area KM57. Setelah itu saya lanjutkan dengan naik kendaraan umum menuju ke rumah saya.

Selesai...

Thanks ya sob udah mau baca cerita saya!!! Sampai jumpa di perjalanan saya berikutnya!!!
Terima kasih.

Sabtu, 10 Mei 2014

Berlibur Ke Bali

Hai sob!!!
Kali ini saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya mengenai liburan saya di Bali bersama ibu saya dan teman semasa SMK saya. Simak ya!!!

Kisah ini berawal saat AirAsia mengadakan promo. Bandung-Bali itu hanya Rp.289.000 (belum termasuk biaya bagasi). Iseng-iseng saya coba ngecek jadwal hari libur saya. Setelah saya nemu jadwal hari libur saya, saya langsung mengecek deh harga tiketnya. Saya sendiri memilih tanggal 8-9 Februari 2014 (2 hari doang). Maklumlah, saya juga harus professional dalam bekerja. Jangan sampai liburan saya juga mengganggu semua pekerjaan saya.

Pas saya cek untuk keberangkatan tanggal 8 Februari 2014, ternyata saya nemu untuk keberangkatan pikul 05.40 WIB dengan rute Bandung-Denpasar. Saya lebih memilih terbang dari Bandung karena jaraknya lebih dekat ke kota Karawang. Udah gitu juga gak terlalu sibuk kayak di Soekarno-Hatta. Setelah saya nemu, langsung deh saya buru-buru nelpon call center AirAsia untuk melakukan pemesanan.

Saya booking tiket untuk 2 orang yaitu dengan ibu saya. Setelah saya membeli tiket berangkatnya, saya langsung mencari tiket untuk pulangnya. Tadinya saya mau pilih rute Denpasar-Jakarta, akan tetapi harganya udah mahal. Akhirnya, saya putuskan untuk mengambil rute Denpasar-Bandung saja. Pas searching, saya nemu tiket Lion Air. Harganya sekitar Rp.531.000. Langsung deh saya nelpon call center dan pesen tiketnya.

Setelah saya membeli tiketnya, saya langsung mencari jasa penyewaan mobil di Bali. Pas coba browsing di mbah Google, saya ngeliat postingan di Kaskus jasa sewa mobil Bli Komang. Tanda jadinya cuma Rp.100.000. Sisanya dibayar setelah tur selesai. Awalnya saya juga ragu, tapi banyak banget yang udah kasih testi bagus ke dia. Akhirnya, saya putuskan untuk memesan jasa bli Komang. Kalaupun ketipu, toh cuma Rp. 100.000 doank.

Setelah memesan mobil, tinggal saya memesan hotel untuk menginap di Bali. Kebetulan, saya dapat voucher potongan harga Rp. 200.000 untuk pemesanan hotel di http//:www.tiket.com sebagai hadiah spesial atas pembelian tiket Mandala Airlines yang kebetulan kena cancel flight. Namun, untuk menghemat pengeluaran selama di Bali, saya mengajak temen saya untuk ikut. Akhirnya, temen saya yang namanya Rendi untuk ikut. Dia pun setuju.

Setelah itu, saya lagsung booking tiket pesawatnya lagi buat dia. Setelah booking tiket pesawat, akhirnya saya browsing mengenai hotel yang nantinya akan saya tempati selama di Bali. Kemudian, saya pilih hotelnya yang dekat dengan pura luhur Tanah Lot. Hotelnya sendiri bernama Hotel Coco. Jaraknya pun tidak terlalu jauh dengan Pura Tanah Lot dan Pura Batu Bolong. Ya, jalan kaki juga bisa!!!

07 Februari 2014

Sepulang kerja, saya langsung berkemas dan menyiapkan itinerary. Semuanya langsung saya masukkan ke dalam koper yang saya pinjam dari kakak saya. Setelah selesai berkemas, saya istirahat sejenak (bukan tidur) sambil menunggu teman saya Rendi yang katanya akan datang ke rumah saya sekitar pukul 00.30 WIB. Dia sebenarnya shift malam, tapi dia minta izin pulang cepet.

08 Februari 2014

Lewat tegah malam, temen saya akhirnya datang juga. Setelah semuanya siap, akhirnya kami pun bergegas pergi. Kami di antar ke bandara oleh kakak ipar saya yang dari Tasikmalaya dengan menggunakan mobil milik kakak ke-2 saya. Kami berangkat sekitar pukul 01.30 malam. Maklum lah, gak ada transportasi ke Bandung pada jam segini. Di perjalanan, saya sempat tertidur untuk beberapa saat karena mata saya belum terpejam karena harus mempersiapkan itinerary.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama satu setengah jam, tibalah kami di bandara Husein Sastranegara, Bandung. Bandaranya juga terlihat masih sepi. Maklum lah, penerbangan pertama aja mulainya sekitar jam 5 pagi. Setibanya di sana, kami langsung menuju ke ruang tunggu bagian luar. Saya pun pergi ke toilet untuk buang air kecil.

Karena bandara belum dibuka, saya menggunakan toilet di bagian luar bandara Husein Sastranegara (dekat teminal kedatangan). Kesan pertama saya menggunakan toilet tersebut benar-benar kurang nyaman. Gak ada tempat menyimpan tas ataupun gantungan di dalamnya. Bahkan, salah satu pintunya pun ada yang gak bisa dikunci. OMG!!! I really hate its toilet.

Tak lama berselang, bandara pun mulai dibuka. Satu per satu penumpang pun mulai masuk ke area check-in counter. Akhirnya, kami berpisah dengan kakak ipar saya di depan pintu masuk. Setelah melakukan proses check-in, kami pun langsung duduk di ruang tunggu. Iseng-iseng saya pengen tahu toilet di bagian dalam bandara. Emhhh!!!! Yang ini agak lebih baik. Hanya saja, tissuenya yang gak ada.

Setelah itu, kami pun langsung diperintahkan ke gerbang keberangkatan di lantai 2. Sambil menunggu boarding, saya sempatkan dulu melaksanakan ibadah sholat di lantai 2. Mushola-nya pun sangat kecil dan hanya bisa menampung beberapa orang saja. Kayaknya ni bandara perlu pembenahan deh!!! Tapi, uniknya jendela mushola tersebut menghadap langsung ke landasan (khusus mushola pria).

Pesawat yang kami naiki adalah pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan QZ-7912 . Waktu keberangkatannya adalah pukul 05.40 dan tiba di Denpasar sekitar pukul 08.20 WIB. Namun, kami dijadwalkan tiba 10 menit lebih awal sesuai dengan yang tertera di itinerary terbaru yang dikirimkan beberapa hari yang lalu.

Tak lama kemudian, kami pun langsung naik ke dalam pesawat. Pagi itu hujan rintik-rintik. Para penumpang pun bergantian menggunakan payung yang tersedia di bandara. Saya sendiri berjalan ke pesawat tanpa menggunakan payung karena saya harus menunggu giliran. Lagi pula cuma hujan rintik-rintik kok. Di sini juga gak ada aviobridge-nya.
Onboard selfie

Setelah masuk, kami pun langsung mencari tempat duduk kami. Kami duduk di barisan 15ABC. Saya memesan kursi tersebut saat pembelian tiketnya. Harganya sekitar Rp.20.000/seat. Ada pula tempat duduk hot seat yang harganya antara Rp. 95.000-Rp. 120.000 dengan seat pitch yang lebih luas. Bahkan, penumpang hot seat dan hi-flyer adalah penumpang yang mendapat prioritas terlebih dahulu saat naik ke pesawat.
Sesaat setelah take-off

Tak lama kemudian, pesawat pun berangkat. Sesaat setelah take-off, saya melihat pemandangan yang begitu indah. Di kota Bandung itu banyak sekali perbukitan yang menjulang tinggi. Pokoknya indah banget deh!!! Karena waktu itu masih pagi dan cuaca agak sedikit mendung, pemandangannya jadi kurang begitu jelas.

Setelah beberapa menit terbang, pramugari pun mulai membagikan makanan kepada para penumpang. Saya melakukan pre-book (pemesanan di awal) supaya dapat menu yang saya inginkan dan juga lebih hemat 20% dibandingkan dengan membeli langsung di pesawat. Saya sendiri memesan nasi minyak Palembang ala Chef Farah Quinn, sementara ibu dan teman saya memesan nasi kuning Manado.

Nasi Minyak Palembang ala Chef Farah Quinn
Setelah makan, saya pergi ke toilet untuk buang air kecil. Pas keluar dari toilet, banyak orang yang berfoto sama pramugari. Aku juga malah ikut-ikutan foto bareng sama pramugarinya. Hehe... Pramugarinya juga ramah banget.
Foto bareng pramugari


Setelah terbang kurang lebih sekitar 1jam 30 menit (tiba 10 menit lebih awal), tibalah kami di bandar udara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Terdapat perbedaan waktu kurang lebih 1 jam antara Bandung dan Bali. Cuacanya agak sedikit mendung dan baru saja diguyur hujan. Setelah turun, kami sempat berfoto terlebih dahulu sebelum masuk ke terminal kedatangan. Setelah selesai berfoto, kami pun langsung masuk ke gedung terminal kedatangan dan menunggu bagasi kami di conveyor.


Tak lama, sopir yang menjemput kami pun mengirimkan pesan SMS (maklum, HP-nya harus dimatikan kalo naik pesawat). Setelah kami mengambil bagasi kami, akhirnya kami pun melangkah keluar. Di sana, driver kami sudah menunggu untuk menjemput kami. Oh iya, nama drivernya adalah Bli Putu. Usianya sekitar 22 tahun. Kami dijemput dengan menggunakan mobil Toyota Vios.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Pura Taman Ayun. Biaya masuknya adalah Rp. 10.000/ wisatawan. Pura ini dibangun sekitar abad ke-17 oleh raja Mengwi. Di bagian sisinya terdapat kolam dengan bunga teratai yang mengapung di atasnya. Bukan cuma itu, di sebelah kanan pintu masuk juga terdapat replika orang yang sedang melakukan sabung ayam. Hal tersebut juga merupakan salah satu kebudayaan di Bali. Satu hal lagi, pura ini juga masuk dalam warisan sejarah dunia yang dilindungi oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization).
Me & Mom at Taman Ayun Temple

Setelah mengunjungi Pura Taman Ayun, kami melanjutkan perjalanan menuju ke Danau Beratan yang terletak di kawasan Bedugul. Ada hal yang unik dari nama Bedugul sendiri. Nama Bedugul diambil dari kata "bedug" dan "kul". Bedug adalah alat yang biasa digunakan untuk menandakan waktu sholat, sedangkan kul adalah alat kentongan yang terbuat dari kayu yang sering kita lihat di pos ronda. Versi yang lainnya adalah ketika ada seorang raja yang mandi di danau Beratan dan maaf "anunya kelihatan", maka jadilah nama Bedugul.
Sepanjang Perjalanan Menuju Bedugul

Sepanjang perjalanan menuju ke Bedugul, kami disuguhi dengan pemandangan perbukitan yang sangat indah. Bahkan sebagian terlihat masih asri. Di kawasan ini juga banyak sekali warga yang beragama muslim. Bahkan, ada banyak restaurant halal yang tersedia di kawasan ini. Mata pencaharian utama di kawasan ini adalah bertani buah strawberry karena letak geografisnya yang berada di atas ketinggian.
Warga Bali Bersiap Untuk Sembahyang

Setelah tiba di danau Beratan, kami pun langsung berjalan-jalan di sekitar danau Beratan. Biaya tiket masuk ke tempat wisata Danau Beratan adalah Rp. 10.000/ wisatawan domestik, dan Rp. 30.000/ wisatawan asing. Ada hal yang unik dari Danau Beratan ini, Pura Ulundanu yang dibangun di sisi danau Beratan dibangun seolah-olah mengambang di atas air. Bahkan, pura ini juga dicetak di lembaran uang kertas Rp. 50.000 warna biru. Anda juga bisa berkeliling danau dengan menggunakan perahu yang tersedia dengan tambahan biaya.
Pura Ulundanu

Setelah selesai mengunjungi danau Beratan, kami langsung melanjutkan perjalanan kami kembali. Karena waktu dzuhur sudah tiba, saya dan ibu saya melaksanakan sholat dzuhur di masjid yang berada persis di seberang danau Beratan. Untuk mencapai ke masjid ini, kami harus meniti puluhan anak tangga karena letaknya yang berada di pinggir tebing. Dari masjid ini juga terlihat hamparan danau Beratan. Begitu pula sebaliknya, dari danau Beratan juga kita bisa melihat masjid ini.

Setelah melaksanakan sholat dzuhur, kami melanjutkan perjalanan kami menuju ke Alas Kedaton. Sebelum itu, kami sempat mampir dulu di restaurant Saras. Karena sedang di Bali, saya tidak mau ketinggalan untuk mencicipi makanan khas Bali. Saya memesan bebek betutu (khas Bali), sup asparagus, dan ayam bakar lengkap dengan sambal matah. Minumannya juga saya memesan jus strawberry yang memang banyak tersedia di Bedugul. Setelah makan siang di restaurant Saras, kami langsung melanjutkan perjalanan kami menuju ke Alas Kedaton.
Alas Kedaton

Sesampainya di Alas Kedaton, kami langsung disambut oleh guide khusus untuk wisata di area Alas Kedaton. Biaya tiket masuknya adalah Rp. 10.000. Alas Kedaton merupakan tempat hunian ribuan kera. Di Alas Kedaton sendiri ada salah satu pura yang hanya dibuka pada waktu tertentu saja. Uniknya lagi, guidenya itu adalah pemilik toko yang berjejer di area Alas Kedaton. Setiap pemilik toko, mempunyai antrian masing-masing untuk memandu wisatawan.

Dengan berbekal tongkat kayu kecil, guidenya membimbing kami untuk berkeliling. Guidenya merupakan guide yang sudah cukup terlatih, mereka juga sudah mengenal karakter kera-kera yang ada di area Alas Kedaton. Sebelum kami masuk ke bagian dalamnya, guide kami menawarkan untuk membeli kacang tanah untuk diberikan kepada para kera supaya mereka mau mendekat.

Pas kami masuk, para kera sudah menyambut kami. Bahkan beberapa dari mereka memegangi tangan kami untuk meminta kacang. Gelinya lagi, ada pula yang sampai naik ke atas pundak. Pokoknya seru deh! Awalnya sih agak takut, tapi akhirnya terbiasa juga. Guide kami bilang biarkan mereka yang menyentuh kita, asalkan kitanya jangan nyentuh mereka karena mereka bisa merasa terancam dan marah.

Di samping kiri dan kanan juga terdapat hutan yang lebat yang memang menjadi tempat hunian para kera. Di sini juga kita bisa berfoto dengan kelelawar. Bahkan tersedia juga aksesoris mahkota pilihan sesuai dengan yang kita inginkan. Biaya fotonya sekitar Rp. 20.000. Tenang, kelelawarnya udah jinak kok! Tapi, kalo mau foto pake kamera sendiri juga bisa kok!
Alas Kedaton

Setelah berkeliling, guide kami memandu kami ke tokonya dan menawarkan souvenir khas Bali. Selama menemani berkeliling, guide kami harus menutup tokonya supaya tidak diobrak-abrik oleh para kera. Tokonya hanya dibuka ketika dia menunggu antrian untuk menjadi guide para pengunjung. Setelah berbelanja souvenir, kami langsung melanjutkan perjalanan kami ke Tanah Lot.

Sesampainya di Tanah Lot, kami langsung menuju ke hotel Coco untuk check-in. Hotel Coco sendiri berada di dalam kawasan tempat wisata Tanah Lot. Saya lupa berapa harga tiket masuk ke area Tanah Lot. Setelah check-in, saya langsung berkeliling area Tanah Lot. Sementara itu, supir kami langsung pulang dan akan menjemput kami keesokan harinya. Kali ini saya hanya berkeliling berdua dengan teman saya karena ibu saya kelelahan setelah seharian berkeliling.
Coco Hotel Swimming Pool

Tempatnya ramai banget karena berbarengan dengan acara melihat sunset. Selain itu, kita juga bisa melihat ular suci yang berada di gua di bibir tebing dekat pantai. Sayangnya, kalau ingin ke Pura Luhur Tanah Lot kita harus menyebrangi pantai yang terendam air. Bukan cuma itu, yang boleh ke Pura Luhur hanya orang yang memakai pakaian adat dan yang ingin sembahyang saja.
Sunset View at Tanah Lot

Setelah selesai melihat Pura Luhur Tanah Lot, kami menuju ke Pura Batu Bolong yang letaknya masih di kawasan Tanah Lot. Ngeri juga sih tempatnya. Soalnya gak ada pagar pengamannya. Pokoknya harus hati-hati kalo datang ke sini. Apalagi kalau bawa anak kecil. Walaupun begitu, tempat ini wajib dikunjungi.

Setelah selesai ke Pura Batu Bolong, saya dan teman saya pergi untuk menonton tari Kecak (masih di kawasan Tanah Lot). Biaya untuk menonton pertunjukan tari Kecak adalah Rp. 50.000. Pertunjukan tari Kecak dimulai menjelang sunset hingga selesai. Tempat duduk para penonton juga dibuat melingkar. Lighting-nya juga dirancang sedemikian rupa.

Setelah selesai menonton tari Kecak, kami berdua langsung kembali ke hotel. Malamnya, kami makan malam di hotel Coco. Saya dan teman saya makan di lounge, sementara ibu saya memilih makan di kamar. Setelah selesai makan malam, kami diminta untuk memilih menu sarapan untuk besok (sudah termasuk dalam biaya kamar). Oh iya, hotel ini hanya menyediakan continental breakfast.

Kamarnya sendiri cukup luas. Kami bertiga tidur dalam 1 kamar dengan extra bed (extra charge) karena teman saya gak mau tidur sendiri. Saya tidur bersama ibu saya, sedangkan teman saya menggunakan extra bed. Kamarnya juga dilengkapi dengan WiFi dan safe deposit box. Selain itu, kamar mandinya juga dilengkapi dengan bathtub dan shower.

09 Februari 2014

Keesokan harinya, saya langsung kembali mengeksplorasi kawasan Pura Tanah Lot. Kali ini tempatnya masih sepi. Maklumlah, saya dan teman saya jalan sekitar pukul 06.00 WITA. Di sinilah letak kenikmatannya. Kita bisa mendengarkan deburan ombak tanpa harus terganggu oleh suara orang yang berlalu-lalang. Bahkan, kita bisa berfoto tanpa harus malu bergaya dan terganggu dengan orang lain.
Pura Luhur Tanah Lot

Setelah selesai, kami pun langsung kembali ke hotel untuk persiapan check-out. Drivernya saya minta untuk menjemput sekitar pukul 10.00 WITA. Setelah supir kami tiba, kami langsung bergegas dan melakukan proses check-out. Sebelum meninggalkan hotel, saya sempat mengisi kertas komentar yang diberikan oleh resepsionis. Kali ini saya dijemput dengan mobil Toyota Avanza karena mobil Toyota Vios sebelumnya adalah milik bosnya yang terpaksa harus dipakai karena banyak yang order sewa mobil.
Hotel Coco

Tujuan kami hari ini adalah ke Tanjung Benoa. Sebelum ke Tanjung Benoa, kami mampir dulu ke pusat oleh-oleh khas Bali. Sesuai dengan rekomendasi driver kami, kami mengunjungi Krisna. Toko ini cukup terkenal di Bali. Bahkan toko ini mengadakan undian juga yang hadiah utamanya mobil. setiap pembelanjaan Rp.100.000 akan mendapatkan 1 kupon undian (berlaku kelipatan).
Pelayannya Saya Foto

Di Krisna, saya membeli cemilan khas Bali dan souvenir yang bertuliskan Bali juga. Tenang saja!!! Meskipun tokoknya besar dan lebih mirip kayak supermarket, harganya tetep miring kok! Di sini tersedia berbagai macam souvenir mulai dari kaos, gantungan kunci, hingga perhiasan yang terbuat dari perak. Bukan cuma itu saja, di sini juga kita bisa meminta jasa packing (dengan biaya tambahan) supaya memudahkan kita untuk membawa barangnya. Bahkan, ada stiker name tag-nya juga lho!!!

Setelah selesai shopping, kami langsung mampir ke restaurant 168 Japanese Restaurant untuk makan siang. Maklum, beberapa hari yang lalu saya beli voucher makan online (diskon) untuk makan di restaurant ini. Agak aneh juga sih makan di restaurant ini, soalnya rata-rata pengunjungnya adalah orang Jepang dan Korea. cuma pelayannya aja yang orang Indonesia. Haha... Mungkin cuma kebetulan aja gak ada orang Indonesia-nya.
168 Japanese Restaurant

Konsep restauran ini adalah "All You Can Eat" alias buffet. Bahkan soft drink-nya pun diberikan secara cuma-cuma. Hanya minuman beralkohol saja yang dikenakan biaya tambahan. Meja makannya pun hampir sama kayak di Jepang. Kita masak sendiri dengan menggunakan tungku yang terdapat di masing-masing meja. Tapi, anda juga tak perlu khawatir!! Kita juga bisa kok memilih makanan yang sudah matang tanpa harus repot memasaknya.

setelah selesai makan siang, kami langsung meluncur ke Tanjung Benoa. Rute yang kami lalui adalah dengan melewati tol Mandara yang dibangun di atas laut. Pokoknya, tolnya keren abis deh!!! Oh iya, designer-nya juga orang Bali asli lho!!!! Berbeda dengan tol pada umumnya, tol ini langsung menerapkan bayar tol ketika kita masuk gerbang tol. Jadi gak ada sistem ambil tiket, kemudian bayar di pintu keluar. Tarif tolnya sekitar Rp. 10.000.
Tol Mandara

Tak lama kemudian, tibalah kami di Tanjung Benoa. Di sana, saya dan teman saya langsung bermain watersport. Sedikit tips dari saya, pesanlah dimuka untuk mendapatkan harga yang lebih murah. Tadinya, kami memesan untuk parasailing dan diving. Namun, parasailing tidak bisa dilakukan karena anginnya kurang bagus. Akhirnya, kami memutuskan untuk menggantinya dengan Flying Fish. Oh iya, di sini juga sedang diadakan prosesi penaburan abu orang yang sudah meninggal ke ke laut. Jadi, kami harus tetap tenang dan gak boleh terlalu berisik.

Aktifitas pertama yang kami lakuakan adalah flying fish. Kegiatan ini diawali dengan naik ke atas boat dengan posisi badan dalam keadaan berbaring. Setelah itu, akan ditarik soleh speed boat sampai melayang di udra layaknya seperti sedang menerbangkan layangan. Pokoknya keren abis deh!!! Kami pun melakukannya hingga 2 kali.

Setelah selesai bermain flying fish, dilanjutkan dengan aktifitas diving. Ini adalah pertama kalinya saya diving. Sedikit takut sich, tapi mereka berusaha membuat saya tetap tenang. Kami pun harus berganti pakaian kami dengan pakaian khusus diving. Pakaiannya agak sedikit ketat. Selain itu, mereka memberikan plastik berisi roti tawar untuk menarik minat ikan supaya datang mendekat.

Aktifitas diving-nya sendiri dilakukan di tengah laut dengan kedalaman sekitar 7 meter di bawah permukaan laut. Sebelum menyelam, kami juga diajarkan terlebih dahulu beberapa teknik menyelam dan sandi-sandi ketika menyelam nanti. Setelah briefing selesai, aktifitas pun dimulai. Jangan khawatir, meskipun anda tidak bisa menyelam, pemandunya akan selalu menemani dan menuntun ke tempat mana saja yang harus dituju.
Persiapan Diving

Setelah sampai di tempat di mana di situ sudah dirancang untuk pegangannya, kami pun langsung memulai memberi makan ikan dengan roti tawar yang kami bawa tadi. Oh iya, jangan lupa ya untuk selalu berpeganyan. Karena di dalam laut juga ada arus airnya yang bisa menghempaskan kita. Di dalam air, kami juga sempat mengabadikan momen penyelaman kami.
Diving

Setelah selesai menyelam, kami pun langsung kembali ke pantai. Di perjalanan menuju pantai, saya merasa agak mual. Mungkin, mabuk perjalanan kali! Pas sesampainya di pantai dan berganti pakaian, akhirnya saya muntah. Mungkin karena saya terlalu banyak makan ditambah dengan tekanan di bawah laut. Petugasnya pun mencoba untuk membantu saya. Bukan cuma itu, dia juga ngasih kantong plastik karena khawatir bakalan muntah lagi di jalan.

Setelah selesai watersport activity, akhirnya kami berangkat menuju ke bandara. Temen-temen saya yang gak ikut minta oleh-oleh Joger, tapi waktunya gak memungkinkan. Bahkan, saya pun gak sempet singgah di pantai Kuta. Kami menuju ke bandara dengan melewati tol Mandara (tol yang sama ketika menuju ke Tanjung Benoa). Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam (macet), akhirnya kami tiba di bandara I Gusti Ngurah Rai. Dan akhirnya, kami pun berpisah dengan driver yang menemani kami selama 2 hari di Bali.
Tiba di Terminal Kedatangan

Setibanya di bandara, kami langsung menuju ke counter check-in. Gila, antriannya banyak banget. Maklum lah, banyak para penumpang yang pulang di sore hari. Di bandara, kami juga sempat berjumpa dengan wisatawan dari Teluk Jambe, Karawang. Haha, akhirnya ketemu juga dengan warga 1 kota. Bukan cuma itu, di bandara juga terdapat replika barong yang biasa dijadikan objek foto. Setelah proses check-in selesai, kami pun langsung menuju ke ruang tunggu.
Check-In

Di bandara I Gusti Ngurah Rai tidak ada lounge yang memberikan fasilitas layanan check-in. Karena, lounge-nya hanya ada di bagian ruang tunggu yang berderet dengan restaurant dan toko souvenir. untuk menuju ke ruang tunggu, kita harus melakukan check-in terlebih dahulu. Tapi, ada 1 lounge yang terdapat di bagian luar yaitu lounge milik maskapai Garuda Indonesia. Lounge ini diperuntukan khusus penumpang Garuda Indonesia. Bahkan ada fasilitas layanan check-in juga (tanpa harus ngantri di counter check-in).

Kali ini, kami menggunakan pesawat Lion Air menuju ke Bandung dengan nomor penerbangan JT-903 dengan waktu keberangkatan pukul 19.40 WITA. Gerbang keberangkatan pesawat kami berada di gerbang nomor 18. Sambil menunggu boarding call, saya memilih untuk menggunakan fasilitas ruang tunggu eksekutif yang ada di sini. Biayanya sekitar Rp. 75.000/ orang. Namun temen saya Rendi mendapatkan layanan gratis karena punya kartu kredit.

Lounge-nya tempatnya terlalu kecil dan bahkan saya harus menunggu giliran tempat duduk. Hhhmmmm.....!!! BT juga sih!!! Tapi, dinikmatin aja lah!!! Tidak banyak pilihan makanan di sini. Pantas saja harganya juga murah! Namun begitu, saya gak mau nyebutin nama lounge-nya. Tak lama kemudian panggilan boarding pesawat kami pun terdengar. Langsung deh kami bergegas menuju ke gerbang nomor 18.

Perlu diingat!!! Rata-rata penerbangan domestik di sini itu menggunakan shuttle bus menuju ke pintu pesawat. Karena aviobridge diprioritaskan untuk penerbangan Internasional. Ingat lho!!! Jangan sampai anda terlambat menuju ke pintu keberangkatan anda. Bisa jadi, anda akan ketinggalan pesawat anda. Bahkan, ketika saya tiba di gerbangnya, waktu itu sudah menggunakan bus ke-2.

Eh, di bis saya ketemu lagi sama orang bule. Lalu, saya minta difoto bareng dia. You know what? Dia adalah mahasiswa yang ikut program exchange di ITB (Institut Teknologi Bandung) selama 1 bulan. kocaknya lagi waktu dia coba ngomong bahasa Indonesia ke saya. Bahasa Indonesianya agak terbata-bata dan bikin saya gak ngerti dengan bahasa negara saya sendiri. Overall, saya salut sama dia yang mencoba belajar bahasa Indonesia.
Foto Bareng Bule

Beberapa menit kemudian, bisnya pun mulai bergerak menuju ke depan pintu pesawat kami. Setelah itu, kami pun langsung masuk ke dalam pesawat. Namun, saya kayaknya salah pilih kursi selaku web check-in. Pesawat yang saya naiki ini berjenis BOEING 737-800 ER. Saya duduk di kursi yang hampir tidak ada kacanya. Maklum lah, ini pertama kalinya saya naik pesawat BOEING. Mau gak mau saya harus duduk di tempat itu. Tak lama kemudian, pesawat kami pun terbang.

Pemandangan malam hari memang sangat indah. Kita bisa melihat cahaya lampu dari bangunan-bangunan dan kendaraan-kendaraan di bawah. Setelah beberapa menit mengudara, saya iseng pergi ke toilet. Di sana saya cuma survey toilet-nya aja. Hehe. Yang saya bingung waktu nyari tombol untuk wastafle-nya. Saya malah salah pencet hingga menyalakan panggilan pramugari *norak*. Akhirnya pramugarinya datang sambil membukakan pintu dari luar (yang saya kunci dari dalam). Untung saya berpakain lengkap. Kalau saya lagi buang air, pasti malunya minta ampun.

Setelah itu, saya minta maaf ke pramugarinya karena salah pencet,. Akhirnya saya kembali ke tempat duduk saya. Setelah kembali ke tempat duduk, saya akhirnya tertidur hingga lampu tanda sabuk pengaman dinyalakan dan pengumuman pendaratan terdengar. Sebelum mendarat, saya melihat pemandangan perbukitan khas Bandung terlihat remang, tapi tol Cipularang terlihat jelas dari atas. Pokoknya indah banget deh! Tak lama kemudian pesawat kami pun mendarat.

Setelah mendarat, kami langsung menuju ke terminal kedatangan dan menunggu bagasi kami di sana. Gila, sumpek banget tempatnya karena sempit. Apalagi conveyor-nya hanya beberapa meter saja. Itu pun tidak dibuat melingkar. Akhirnya, banyak tas yang menumpuk di ujung conveyor. Sampai-sampai, kami kebingungan mencari box oleh-oleh teman saya (dari Krisna) karena banyak box yang sama (banyak yang belanja di Krisna), hanya saja nama di labelnya berbeda.

Setelah mengambil barang-barang kami, akhirnya kami menuju ke pintu keluar dan menunggu kakak ipar saya menjemput. Sambil menunggu, saya pergi ke restaurant cepat saji yang lokasinya di seberang terminal kedatangan untuk membeli minum. Tak lama, kakak ipar saya pun tiba. Akhirnya berangkatlah kami pulang menuju ke kota Karawang. Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam dari kota Bandung, akhirnya tibalah kami di kota Karawang. Sesampainya di rumah, saya langsung tidur karena merasa lelah dan ngantuk.

Selesai.

Mungkin itu saja sob yang bisa saya ceritakan. Semoga cerita saya ini bisa bermanfaat bagi kalian semua.
Terima Kasih.

BERLIBUR KE LOMBOK HAMPIR KETINGGALAN PESAWAT DAN KETINGGALAN KERETA

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Hai sobat traveler semuanya... Di tulisan kali ini saya akan membahas tentang liburan sa...